Jumat, 27 Desember 2013

Teh Telor (Padang and The Paper 5)





Kuliner selanjutnya yang dijajal adalah Teh Telor. Masih di Sate Mak Syukur Padang Panjang. Sebenarnya saya pernah nyicip teh telor di salah satu rumah makan Padang di Ciamis. Tapi merasakan sesuatu di tempat asalnya pasti berbeda. Kesimpulan rasanya memang nendang senendang-nendangnya!


Kamis, 26 Desember 2013

Nyicip Sate Mak Syukur Padang Panjang (Padang and The Paper 4)


Kuliner kedua yang dijajal adalah Sate Padang. Sama seperti rumah makan, di sini yang namanya Sate Padang tanpa embel-embel Padang. Kami dibawa Pak Yayan ke Sate Mak Syukur Pandang Panjang. Sate ini terkenal, sampai Presiden SBY pun pernah mampir ke sini (foto-foto Presiden di Sate Mak Syukur banyak terpampang di dinding). Inillah penampakan Sate Mak Syukur.
Perkenalan pertama dengan Sate Padang terjadi pada tahun 1997 di Kompleks Perumahan Departemen Agama Kedoya Selatan Kebon Jeruk Jakarta Barat. Saat itu saya kuliah di Institut Sains dan Teknologi Al Kamal (episode ini akan saya tulis secara terpisah) dan kost di salah satu rumah di kompleks perumahan ini. Bang Hasan, itu panggilan yang punya rumah. Beliau memang keturunan Padang dan ketika ada tukang Sate Padang lewat aku ditawarin.  Rasanya yang aneh membuat syaraf perasaku sibuk untuk beradaptasi sementara otakku juga mungkin sibuk untuk mentransformasi rasa aneh menjadi enak heheheheheeheh.....maklum rasa sate yang seperti ini belum ada di memori.

Ketika pindah kuliah ke Depok dan kebetulan ada penjual Sate Padang yang murah untuk ukuran saat itu (tahun 1998 sampai dengan 2001an harganya sekitar Rp. 4.000,00). Sejak saat itu  aku mulai menggemari Sate Padang dan berlanjut sampai sekarang......Kesimpulannya Sate Padang Mak Syukur nendang senendang-nendangnya!


Rabu, 25 Desember 2013

Nasi Kapau Uni Lis Cabang Pasar Atas Bukittinggi (Padang and The Paper 3)

Nasi Kapau Uni Lis Bukittinggi

Pertama kali mendengan istilah Nasi Kapau adalah ketika masih sekolah di SMA Negeri 2 Tasikmalaya. Saat itu organisasi kepramukaan di sekolahku (Ambalan Satyakencana) mengadakan kegiatan Lintas Budaya Minang,  semacam kegiatan ekspedisi ke Sumatra Barat.  Ketika tiba, mereka berujar tentang Nasi Kapau!wah seperti apakah itu?Nasi Kapau adalah nasi rames khas nagari Kapau, Sumatra Barat terdiri dari nasi, sambal, dan lauk pauk khas Kapau, gulai sayur nangka (cubadak), gulai tunjang (urat kaki kerbau atau sapi), gulai cangcang (tulang dan daging kerbau), gulai babek (babat) atau paruik kabau. Nasi kapau standar selalu dilengkapi gulai nangka ciri khas nasi kapau itulah hal ikhwal Nasi Kapau menurut Wikipedia.

Setelah puas mengelilingi  Bukittinggi kami meminta Pak Yayan (local partner kami selama di Padang) untuk mengecap kuliner Sumatra Barat yang betul-betul nendang. Terdamparlah kami di Nasi Kapau Uni Lis Cabang Atas Bukittinggi. Di sekilingnya tampak kios-kios Nasi Kapau yang rata-rata memakai nama dengan awalan Uni. Sepintas menunya tidak berbeda dengan menu-menu di Rumah Makan Padang yang sering kita temui di luar Sumatra Barat. Tapi ada yang agak serem, ini nih!
Usus Sapi isi tahu dan telur

Untuk rasa susah untuk digambarkan dengan kata-kata, yang jelas nendang senendang-nendangnya.





Seminar Dalam Rangka Temu Alumni Penerima Beasiswa Kominfo Tahun 2013 (Padang and The Paper 2)

Akhirnya ketemukan juga Andalas yang asli, Universitas Andalas. Sebuah universitas terkemuka di Pulau Sumatra tepatnya di Provinsi Sumatra Barat. Nama Andalas dinisbahkan kepada nama lain dari Pulau Sumatra yaitu Andalas.  Tiap universitas memiliki rata-rata memiliki arsitektur bangunan kampus yang khas. Begitu juga dengan Unand yang menjadi tuan rumah Seminar Dalam Rangka Temu Alumni Penerima Beasiswa Kominfo Tahun 201. Arsitekturnya yang modern mengambil gaya Eropa (maaf kalau salah, ini analisa orang non arsitek, jadi ngasal) sehingga sangat artistik. Apalagi lansekap Unand yang ada di dekat gunung sehingga menambah keasrian. inilah salah satu sudut Universitas Andalas.
Seminarnya sendiri berjalan dengan lancar dengan pembicara dari para alumni S3 Penerima Beasiswa Kominfo dari luar negeri. Kemudian ada pembicara dari Universitas MARA Malaysia.  Hubungan baik dengan Malaysia di Pulau Sumatra terasa sangat erat. Tidak seperti beberapa gelintir orang yang tidak tahu mengapa seolah sangat membenci segala sesuatu yang berbau Malaysia, bukankah mereka adalah saudara serumpun......mendapat atmosfir hubungan yang erat diantara keduanya di Auditorium Unand mengingatkan saya akan wacana Melayu Raya!

Selasa, 24 Desember 2013

My First Flight (Padang and The Paper 1)

Akhirnya di usiaku yang ke 37 ada kesempatan untuk naik pesawat terbang hehehehe.....karena ini yang pertama maka bagiku adalah sesuatu yang luar biasa.  Undangan untuk presentasi jurnal hasil penelitian dari Panitia Temu Alumni penerima Beasiswa Kementerian Komunikasi dan Informasi Balitbang Kominfo menjadi wasilah terlaksananya salah satu mimpiku ini.  Perasaan campur aduk antara bahagia, takut, khawatir dll.  Akhirnya Penerbangan Garuda Indonesia dengan Nomor Penerbangan GA 169 membawaku ke Kota Padang Sumatra Barat, tempat acara itu dihelat.  Pesawat Boeing 737-800 menjadi saksi segala perasaan yang merasukiku manakala take off dari  Bandara Soekarno Hatta Cengkareng  Minggu 24 Nopember 2013 pukul 06.20 wibb.

Aku beruntung, Nomor Kursi 32A ternyata tepat di samping jendela.  Keinginanku untuk melihat daratan dari udara terlaksana.  Take Off kujalani dengan lancar, walau agak puyeng sedikit (salah posisi hadirin, kepala ga nyandar). Mulailah sensasi mengangkasa kunikmati!panorama kota, laut, sungai dan hutan membuat tafakurku semakin mendalam disela kepasrahan yang menyeruak. Konfigurasi awan seolah menghadirkan lukisan abstrak yang sulit untuk kufahami.

Akhirnya setelah kurang lebih satu setengah jam mengangkasa, kami mendarat di Bandara Internasional Minangkabau!.....Padang kami datang!dan petualangan dimulai....bersambung.