Sabtu, 06 September 2014

My September, My Life, an Epic.....! Part 3

Musim Haji tahun ini bertepatan dengan bulan September, bulanku!Selain ketika momen mudik, pemberangkatan haji merupakan salah satu saat kita dapat menikmati kemacetan di Ciamis. Jujur saja bahwa menunaikan ibadah haji merupakan salah satu hal yang ingin dicapai dalam hidup kami.  Ada perasaan haru ketika melihat orang berhasil memenuhi panggilan Tuhan, pergi ke tanah suci. Lebih haru lagi ketika menafakuri orang yang bercita-cita dan berusaha keras untuk  pergi haji. Ada loper koran, tukang pijat, tukang gorengan......mereka bisa, mengapa kami tidak!
 
Menjelang usia 40 aku harus mulai melihat ke bawah. Begin at fourty bagiku ya harus mulai mawas diri, sadar diri dan mengukur diri. Mengingat kembali filosofis hidup yang telah beberapa tahun berada di kamar lupa. Bercengkrama dengan kitab suci. Membaca kembali buku-buku yang menghidupkan ruhiah!


Kamis, 04 September 2014

My September, My Life, an Epic.....! Part 2

Sudah sewajarnya aku memandang September dengan penekanan lebih. Selain bulan dengan "aroma kiri" dengan efek traumatiknya seperti yang diulas sebelumnya,  di bulan ini 37 tahun yang lalu aku dilahirkan. Dua orang berpengaruh (versiku) yang lahir di bulan yang sama  adalah SBY dan Iwan Fals. SBY mulai mempesonaku kala menjadi Kaster TNI, retorikanya bagus!saat itu  aku pernah menulis bahwa orang ini cocok jadi RI1, cuma sayang baju ijo (maklum saat itu masih jadi aktifis tingkat kos-kosan heheheh). Pilpres 2004 malah lebih terpesonakan lagi, aku jadi tim sukses SBY-JK!, pernah berjabat tangan pula, cukup menjadi sebuah kebanggaan bagi seorang mantan politisi lokal!

Iwan Fals jelas "dulu" sosok idola. Dia adalah salah satu orang yang fotonya berkesempatan menghiasai dinding kamarku, selain Bung Karno, Timnas Belanda dan .....Luna Maya. Syair-syair Lagu-lagu Iwan Fals seolah pupuk yang menumbuhkembangkan kepekaan sosial, budaya, cinta dan politik. Dulu Bang Iwan adalah simbol perlawanan terhadap rejim yang berkuasa.  Tapi kenapa ya sekarang ko kurang greget gitu ya (ini menurutku lho ya).  Harapan saya mudah-mudahan Bang Iwan tidak lupa dengan lagu "Bongkar" sampai kapanpun dan dalam situasi bagaimanapun!

Bang Iwan juga yang pernah menginspirasiku kuliah di Sekolah Tinggi Publisistik (Lenteng Agung)  jadi jurnalis, sesuatu yang masih menjadi mimpi hingga kini.(aku pernah berlomba sama teman kos dulu, dia nanti dapat nobel fisika dan aku dapat pulitzer!mimpi....paling-paling kini aku dapat karya satya kesetiaan 30 tahun!

Itulah dua orang "besar", orang virgo! (taraf klasifikasi saja sih, sebab aku tidak percaya zodiak). Akankah sejarah akan menulis namaku dengan huruf besar?Akankah orang mengenangku sebagai orang besar?.......libido untuk jadi sesuatu yang "BESAR" sudah lama mati (jadi ketua OSIS adalah jabatan politik tertinggi yang pernah aku raih heheheheheh), aku hanya ingin menjadi hamba yang baik bagi Tuhanku, aku hanya ingin memberi makna lebih bagi sekelilingku, memberi manfaat lebih bagi keluarga dan umat manusia, tapi kalaupun pada tahun 2034 aku jadi Bupati Ciamis, misiku tetap jadi hamba Tuhan yang baik dan semaksimal mungkin memberikan manfaat bagi umat manusia!

Rabu, 03 September 2014

My September, My Life, an Epic....! Part 1

Di rentang waktu tahun 1987 sampai dengan tahun 1993 bagiku Bulan September adalah Bulan Horor. Peristiwa G30SPKI adalah taglinenya! Pemutaran Film Pengkhianatan G30SPKI di TVRI seolah menjadi acara paling dihindari manakala memasuki Bulan September.  Penayangan Film G30SPKI setiap malam 1 Oktober di stasiun  televisi yang hanya satu-satunya saat itu, menjadi momok yang menakutkan. Dari sudut pandang kini aku baru sadar betapa dahsyatnya indoktrinasi rejim orde baru terkait peristiwa itu. Sebelum kami mempunyai televisi masih terbayang jelas bagaimana kami dimobilisasi untuk menyaksikan Film G30SPKI melalui layar tancap Departemen Penerangan di alun-alun desaku. Film yang berakhir shubuh itu merupakan salah satu film yang tidak pernah aku tonton sampai tamat. Selain panjang, ketakutan tak mampu menghapus rasa penasaranku. Mungkin karena saat itu aku masih anak-anak (dan ternyata ini gunanya ada batasan umur dalam setiap tontonan), aku merasa trauma (soak/Sunda).  Perasaan itu terus terjadi sampai menjelang masuk SMA. Saat dimana mulai bisa memahami bagaimana sebuah film dibuat. Satu hal selain visualitas dari Film Pengkhianatan G30SPKI adalah efek musikalitasnya yang legendaris. Menyayat hati sekaligus menakutkan!. Efek traumatik juga dipengaruhi oleh buku koleksi ayahku yang menurutku sangat berpengaruh "Dari Hati Ke Hati". Sebuah buku yang menceritakan peristiwa G30SPKI dari kacamata para istri Pahlawan Revolusi. Buku yang cukup respresentatif tentang kronologis peristiwa tersebut di tempat kejadian. Dapat dibayangkan bagaimana memory effect sebuah buku yang tergolong berat  dan "seram" dibaca oleh seolah anak kecil yang baru belajar membaca. 

Peristiwa G30SPKI sayup-sayup ku dengar. Lubang Buaya, Gerwani, Pemuda Rakyat, Gestapu, Mahmilub adalah kosakata yang sering kudengar dari Ayah dan Ibuku kalau bercerita tentang tragedi 1965. Kata-kata yang baru aku pahami ketika menginjak Sekolah Menengah. Di Mushola kecil di samping rumah dalam perbincangan menjelang shalat isya adalah saat dimana para orang tua kami bercerita tentang dinamika politik masa lalu. DI/TII dan PKI menjadi topik yang membuat hilang kantuk dan waktu sela antara dzikir Maghrib dan adzan Isya terasa singkat sekali.  Bagaimana Ua bercerita  menembaki gerombolan DI/TII dengan senapan dorlok, dibakarnya kampung Cikujang Beet oleh Gorombolan (orang tua kami menyebut DT/TII dengan istilah Gorombolan mungkin karena datangnya selalu bergerombol), cerita mengungsi manakala hari beranjak malam, atau seseorang dengan golok panjangnya yang berjaga di alun-alun kecamatan pasca peristiwa penculikan para jenderal adalah sepenggal cerita singkat yang masih terngiang sampai sekarang. Ada beberapa peristiwa penting sebenarnya yang terjadi di kampung kami, pembakaran pos tentara oleh gerombolan DI/TII di Sampalan (salah satu bukit Gunung Sawal), Penyerbuan tentara Belanda/Agresi Militer Belanda II dimana salah satu kakak ayahku menjadi korban kebiadaban tentara Belanda (ironis mengapa aku kok mengidolakan Timnas Belanda), penambangan timah hitam yang merupakan satu-satunya di Indonesia (fakta ini membuatku terobsesi untuk membuat film dokumenter "Expedisi Lobang Timah") dan lain-lain.

Awal September memaksaku untuk mengingat akhir September 1965.  Masa yang bisa jadi merupakan awal dari keterpurukan sekarang (kalau menganggap kita tengah terpuruk) atau fondasi kegemilangan Indonesia sekarang (kalau memandang Indonesia sekarang sebagai sebuah wajah kegemilangan). Bukankah baik dan buruk itu tergantung siapa dan atas dasar kepentingan apa!. Tidak dalam posisi untuk memvonis siapa salah siapa benar!toh aku bukan saksi sejarah apalagi pelaku sejarah. Di alam mahsyarlah kita kelak akan menyaksikan kebenaran absolutnya. Bukan katanya, menurut, berdasarkan, dan bebeberapa kosakata lain yang menggambarakan kenisbian.  Aku hanya menyaksikan buku-buku tebal berjilid merah, menumpuk di salah satu ruangan kantorku dulu. Kini buku-buku itu telah berdebu dan nyaris tak terawat. Padahal buku itu dulu pernah menjadi buku sakti yang bisa membuat seseorang terpuruk, seperti seorang pria tua yang bolak-balik ke kantor kami dulu menuntut keterangan bahwa dia tak selayaknya ada di salah satu halaman buku tebal dan berdebu itu. Aku hanya termangu sambil tafakur kecil sambil mengingat sebuah kutipan yang aku juga sudah lupa siapa yang mengatakan  tapi kalimatnya masih jelas "bahwa sejarah masih tetap ditulis oleh mereka yang menang!".



Senin, 04 Agustus 2014

Ugh...

Bulan Juli 2014 ga nulis sama sekali. Atmosfer pilpres 2014 terasa begitu mengharu biru. Passion untuk menulis nyaris hilang terganti dengan dinamika perasaan yang kadang aku juga bingung untuk memaknainya. Pada Pilpres tahun ini aku merasa involved sekali. Padahal kadang kalau direnungi lebih dalam.....heheheheheh. Tapi hikmahnya adalah bahwa dalam sesuatu itu jangan terlalu, sedang-sedang saja.  Sebatas menggunakan hak. Memilih yang diyakini.  Keyakinan seseorang terhadap sesuatu memang berbeda. Banyak faktor yang membangun sebuah keyakinan....dan terkadang keyakinan itu seperti cinta!terkadang merontokan logika.

Tapi itulah seninya berbeda.Saling menghormati dan menghargai adalah pelajaran paling penting dari sebuah perbedaan. Ketika dukungan kita menang, hanya sebatas eforia belaka yang mungkin hanya bertahan beberapa minggu selanjutnya hidup menjadi sesuatu yang harus diperjuangankan. Ada kutipan di  http://rinaldimunir.wordpress.com/ terkait fenomena pasca helatan pilpres.
Saya menutup tulisan ini dengan mengutip surel dari rekan saya di milis, sesama dosen ITB juga. Kata-katanya perlu kita renungkan.
Siapapun pemenang Prabowo vs Jokowi, hanya berpengaruh SEBENTAR pada penggemar fanatik salah satu calon. Penggemar fanatik Capres yang menang akan senang hatinya, dan penggemar fanatik Capres yang kalah akan sedih hatinya. Hanya SEBENTAR teman!! Pada masa selanjutnya yang panjang, sangat mungkin terjadi situasi berbalik 180 derajad:
1.”Mantan” penggemar capres yang menang, justru jadi sebal, karena ternyata capres ini TIDAK SEBAIK yang mereka yakini sebelum pilpres.
2.”Mantan” penggemar capres yang kalah, justru berbalik menjadi penggemar capres yang menang, karena ternyata capres ini TIDAK SEBURUK yang mereka yakini sebelum pilpres

Sabtu, 14 Juni 2014

DUNIA BELUM BERHENTI BERPUTAR LHO…



Empat tahun lalu  Arjen Robben tertunduk lesu. Dia kalah dalam duel one on one dengan Iker Casillas. Tendangannya masih bias diblok kipper nomor satu Spanyol tersebut. Padahal itu adalah peluang terbaiknya atau sekaligus peluang terbaik Belanda dalam Final Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Kalau itu jadi gol mungkin sejarah akan mencatat lain.   Tapi itulah hasil maksimal yang diperoleh Belanda di Afrika Selatan. Masih akrab dengan julukan spesialiasi runner up. 

Kini empat tahun berselang di pertandingan pertama Grup B Belanda kembali bertemu Spanyol. Dalam konteks head to head Arjen Robben dan Iker Casillas, giliran Kiper Spanyol yang tertunduk lesu.  Empat tahun yang lalu kakinya membuat Arjen Robben seperti terlihat bodoh namun sekarang dua gol Robben dimana salah satu kecohan dribblingnya giliran membuat Casillas terlihat bodoh.

Itulah dunia memang. Seperti Tuhan katakan bahwa kemenangan itu dipergilirkan. Ada saat di atas ada saat di bawah. Kadang terlihat pintar kadang terlihat bodoh. Suatu saat beruntung dan lain waktu sial. Ada saat menang ada saat kalah. Alangkah bahagia seorang muslim ketika mampu bersikap dan berlaku sama terhadap kemenangan dan kekalahan. Tetap bershabar dan bersyukur.

Sabtu, 24 Mei 2014

Logika yang Teramputasi



Menjelang Pilpres eskalasi suhu politik semakin meninggi. Baik di level elit ataupun massa akar rumput. Baik di level praktisi maupun simpatisan. Saling menghujat, menjatuhkan, memaki dan lain-lain. Beberapa pengamat sudah kehilangan netralitasnya, entah kenapa!Mungkin karena sudah punya hutang budi atau hutang pekerjaan alias proyek.

Mengapa harus sebegitunya!benarkah karena idealisme atau pragmatisme, atau riwayat kebencian akut yang telah lama mendarah daging. Media sosial ramai dengan perang kata-kata. Mungkin mereka menganggap komentar dan pilihan dia akan membuat banyak orang berlaku dan berpikiran sama.  Kecuali orang yang memang punya kepentingan (minimal takut beda) rasa-rasanya mayoritas kita sudah cerdas memilih. Dalam memutuskan untuk memilih paling tidak ada tiga kata kunci : ideologi, pragmatisme (baca:kepentingan), dan kebencian.

Sekali lagi!selamat menyiksa diri karena sikap suka dan tidak suka.

Rabu, 21 Mei 2014

Hope Still Hope Always Hope

Memelihara ikan gurame akan banyak mengajarkan kita tentang kehidupan dan harapan. Entah sudah berapa ratus anak ikan gurame yang saya beli.....dan siklusnya terus berulang...kena hama mati!paling tersisa 10%. Angka itupun masih bagus dibanding 0%. Ikan ini memang unik, ada yang bilang bodi Rambo tapi hati Rinto, rentan sekali terhadap hama penyakit. Ditambah pertumbuhannya yang lambat maka pantaslah bila ikan ini nilai ekonomisnya tinggi.

Punya ikan gurame seolah prestise tersendiri. Melihat ikan gurami memakan dedaunan atau pelet akan menimbulkan sensasi tersendiri....kalau kata teman "boga hutang ge jadi poho". Kedamaian.

Walaupun sering beli dan sering mati, tapi kata kapok seolah mati.....beli lagi mudah-mudahan kali ini berhasil!itulah berharap, masih berharap dan selalu berharap