Sabtu, 13 Desember 2014

Perdjoeangan Hidoep...(1)

Rumah Makan Ma Tasik 2 (Gambar dari Kompas.Com/Totok Wijayanto
Rumah makan Ma Tasik 2 di  Jalan Raya Rajamandala, Cipatat, Bandung Barat adalah rumah makan yang dikenang sebagai bagian dari perjalanan hidup yang begitu. Rumah makan itu sekarang sudah tidak beroperasi atau mungkin sudah tidak ada seiring dibangunnya jalan Tol Cipularang. Adanya jalan tol itu membuat Jalur Bandung-Cianjur tidak seramai 15 tahun yang lalu. Pembangunan memang terkadang memakan korban. 

Dulu Bus Budiman Jurusan Tasik-Depok yang sering kupakai untuk mudik biasanya berhenti rumah makan ini. Saat itu adalah fase hidup dimana terkadang ketika mudik uang disaku hanya cukup buat ongkos dan beli makanan sekedarnya.  Ketika masuk rumah makan ini untuk mengganjal perut ya menuju warung disamping rumah makan. Lontong, Bakwan, Gehu dan segelas teh hangat gratis cukup untuk meredam amarah penghuni perut sampai ke rumah. Terkadang iseng memandang penumpang lain yang tengah antri prasmanan di ruang utama rumah makan!Mupeng tapi tidak ada daya. 

Bukan untuk membuka kembali halaman lama!tapi menjadi modal untuk bersyukur. Pencapaian sekarang setidaknya telah sampai pada titik dimana bisa antri bersama di ruang utama rumah makan ketika bus yang kutumpangi berhenti. Tidak lagi terpaksa ke warung makanan ringan disampingnya atau minta maaf ke penjaga WC karena membayar tidak sesuai tarif! Seperti pedih tapi indah untuk di kenang!mudik ditemani lagu melankolis Tommy J. Pisa atau Cinta Hitamnya Meggie Z perjalanan Depok-Tasikmalaya menjadi nostalgia yang kadang dirindukan. Hidoep itu bagaimanapun kondisinya akan tetap sebagai Perdjoeangan!Kemenangan Hidoep adalah manakala kita telah menggapai ridho Illahi dan ditempatkan di Jannah-Nya!aamiin yra.

Selasa, 09 Desember 2014

Widadari....


Guratan sajarah mawa bewara
Yen kula nyata bapa nu ngayuga
Syukur anu teu bisa diukur
Pamulang asih anu teu kasilih
Estuning ngan diwungkulkan ka Gusti

Geulis......
Anjeun ayeuna keur nyorang kembang buruan
hiji hihias nu moal bisa ditaker rupa jeung rasa
Geulis....
wanci pasti bakal tuluy nyerelek
manggihan takdir gusti nu mirig pasti
Anjeun bakal mekar....
Geulis....
Kadang bapa melang,
Kadang mamah hariwang 
risi ku inggis rempan ku sugan
sieun anjeun galideur dina nyorang kahirupan
galideur ti papagon gusti.....

Tapi bapa oge mamah yakin
Anjeun lain anu bapa oge lain anu mamah
bapa jeung mamah ngan saukur kaamanatan
ngadidik hidep....
Sakadar mentangkeun jamparing ka tujuan hirup urang 
milari karidhoan Illahi teu kurang teu leuwih...
Dunya mah saukur jalan, lain tujuan
rupa mah saukur pupulasan, lain sari
elmu saukur pakakas, lain hasil

Yaa Alloh nu murbeng alam!
Pasihan kakiatan ka abdi sadaya 
kangge ngajagi amanat anu tos dipercanteunkeun!
aamiin yra!

Jumat, 28 November 2014

Seorang Sahabat Saya yang Amat Kaya (Oleh: Miranda Risang Ayu)

Ia kini tinggal di daerah Limbangan. Saya tidak tahu persis berapa kilometer jarak Limbangan dari Semarang. Limbangan itu kota kecil. Dari ceritanya, saya membayangkan bahwa ia pun tinggal bukan di tengah, tetapi di pinggir kota Limbangan. Jadi, setelah naik bus antarkota, ada beberapa jenis kendaraan lagi yang harus dipakai untuk mencapai rumahnya, mungkin termasuk angkutan pedesaan. Pada kali terakhir saya bertemu dengan dia, saya berjanji ingin mengunjungi dia. Saya merindukan kebersamaan dengan dia tahunan silam, ketika ia dan saya masih mahasiswa, tinggal di rumah kontrakan sederhana yang hampir sama, hanya punya beberapa lembar baju kusam untuk kuliah dan kain sifon pasar penutup rambut yang dirapikan pinggirannya dengan modal Rp. 300 Rupiah di tukang obras. Ketika itu, keseringan antara dia dan saya selalu memunculkan kesanggupan bersama untuk tertawa amat nikmat ketika piring tembikar kesayangan saya pecah atau rok batik tercantiknya robek sehingga tidak bisa dipakai lagi. Ia senantiasa bilang, "Yang 'tidak ada' baru barang kesayangan, belum orang yang dicintai, belum nyawa sendiri".

Saya bahkan tidak pernah tahu jumlah nilai akhir yang didapatnya ketika dia diwisuda sebagai sarjana ilmu peternakan. tak pernah ada topik alamat perkantoran yang akan dituju untuk melamar pekerjaan membuat dia dan saya duduk berduaan lama.  Saya kenal kecerdasan alamiahnya, kerajinannya, dan kerinduannya yang murni kepada Tuhan dalam pergaulannya sehari-hari, sehingga angka-angka yang tertera dalam transkrip nilai akademiknya menjadi tidak begitu penting. Keberhasilan dan kegagalan bisa membuatnya tersenyum, dan itulah sebaik-baikya "ilmu" yang telah didapatnya dalam usianya yang masih amat muda.

Bahwa kemudian toga membuat dia dan saya masuk ke dalam lapisan menengah intelektual, itu benar. Tetapi, saya memilih tetap di Bandung dan dia mengikuti suaminya di Limbangan. Masih sama-sama berkerudung, daya mulai terbiasa bersepatu tumit tinggi sedang ia berterompah. Sementara itu saya berangan tentang studi di Australia, kambing-kambing perliharaan dan anak didiknya nun di balik gunung sana tampaknya sudah mulai menjadi buti-butir tasbih yang nyata.

Malam itu saya bertemu dia di Bandung. Tangan saya masih menjinjing berkas penelitian dan pelatihan. sedangkan dia, perutnyalah yang menjinjing kehidupan untuk ketiga kalinya. dengan bahagia dia mengomel bahwa besok perjalanannya ke Limbangan pasti riuh rendah. Saya? apa yang bisa saya ceritakan dari target-target saya yang berhimpitan di dalam agenda? saya kira, jika malaikat adalah manusia, mereka tentu sudah mulai mengomel tingkah saya yang sok penting tentang kehidupan,. Jika semua adalah titipan, apa artinya sepatu tumit tinggi, uang, kesempatan dan gelar tanpa keterampilan yang makin baik dalam mengingat-Nya?
Sahabat saya itu, dengan sadar telah memilih untuk tidak menjadi apa-apa justru ketika berbagai peluang struktural bisa saja diraupnya. Sementara itu, bagi saya, agenda sudah hampir menyaingi Al Quran literer, kesahajaan hidupnya mungkin telah membuat huruf-huruf Al Quran bahkan telah mulai menampakkan diri di sudut-sudut hati dan ufuk-ufuk cakrawala, setiap pagi dan petang.
Pilihannya untuk hidup secara bersahaja justru telah membuatkan kaya oleh karunia-Nya untuk melakukan ibadah yang terbesar, yakni mengingat-Nya dengan baik setiap saat. Sungguh mewah untuk merasa tidak memiliki apa-apa, tetapi dimiliki oleh-Nya.

Selasa, 25 November 2014

Cirahong! Sensasi yang Tak Kunjung Padam

KA Lodaya, Solo Balapan-Bandung Melintas di Jembatan Cirahong
Walaupun entah yang keberapa puluh kali!Moment melewati jembatan Cirahong pasti menawarkan sensasi tersendiri, apalagi ketika berbarengan dengan datangnya kereta api. Sedikit memacu adrenalin. Terkadang aku ingin melintasinya dengan berjalan kaki, mencoba sesekali. Jembatan Cirahong tersebut merupakan salah satu saksi hidup sebuah adikarya teknik sipil negeri kincir angin. Menyaksikan kekokohan dan kekuatannya pasti menyisakan decak kagum. Pun ketika terjadi gempa berkekuatan 7,3 SR pada tanggal 2 September 2009 jembatan ini tidak mengalami kerusakan. Menurut saksi mata jembatan ini hanya bergoyang kiri kanan sebagai respon atas gempa yang cukup besar tersebut. Dibuat pada tahun 1893 dan diperkuat pada tahun 1954 jembatan ini mempunyai dua manfaat, jalur atas untuk Kereta Api dan lorong di bawahnya untuk mobil dan motor.

Sembari mengagumi unik, kokoh, kuat dan awetnya konstruksi Jembatan Cirahong pasti sebagian kita ada yang iseng membandingkan dengan karya teknik sipil sekarang. Mengapa bangunan sipil jaman Belanda mayoritas kuat, kokoh dan tahan lama?.........ingin tahun jawabnya? Jangan tanyakan pada orang di bawah ini! Sebab dia bukan ahli teknik sipil apalagi ahli nujum!dia tidak pernah merasa jadi ahli sesuatu, dia hanya berusaha untuk mencari tahu tentang segala sesuatu!walau terkadang dengan tahunya dia terbelenggu dalam ramai yang terasa sunyi///pfuihhhhhhhhh.......

Tampak Atas Jembatan Cirahong

Kamis, 20 November 2014

Aku Tidur Maka Aku Ada!

# Bukan ingin tidur terus tapi terjaga kandang membuat jiwaku memberontak!
# Tidur itu tidak pernah berbohong apalagi dipura-purakan!pura-pura tidur adalah tindakan menyiksa diri!seolah berada di dunia lain padahal dengar dan rasanya masih ada!
# Tidur itu natural, tidak bisa direkayasa oleh kamar yang mewah atau kasur yang empuk!hanya perlu jiwa yang tenang!
# Tidur itu jujur!berbohong atas nama tidur maka bisa jadi anda tidak dapat tidur!bisa juga anda akan ada yang menidurkan
# Jangan pernah membenci orang yang tidur !bencilah orang yang pura-pura tidur!seperti bencinya pengamen yang diapresiasi dengan pura-pura tidur oleh penumpang bus!dinikmati lagunya tapi  tak dihargai selayaknya!
# Tidur itu bukan sikap politik, sejauh ini belum ada protes dengan mogok tidur
# Belum ada orang yang dihukum karena tidur! Kecuali salah tempat dan teman tidur!
# Jangan salahkan tidurnya!salahkan posisinya!
# Banyak orang yang tidur padahal sebenarnya bekerja dan banyak pula orang yang bekerja padahal sebenarnya tidur......
Pusingkan......

Rabu, 19 November 2014

#Eh Dulu Pernah Ada Puisi Ini!

Sajak Reformasi

WS Rendra
Karena kami makan akar,
dan terigu menumpuk di gudangmu…
Karena kami hidup berhimpitan,
dan ruangmu berlebihan…
maka kita bukan sekutu

Karena kami kucel,
dan kamu gemerlapan…
Karena kami sumpek,
dan kamu mengunci pintu…
maka kami mencurigaimu

Karena kami terlantar di jalan,
dan kamu memiliki semua keteduhan…
Karena kami kebanjiran,
dan kamu berpesta di kapal pesiar
maka kami tidak menyukaimu

Karena kami dibungkam,
dan kamu nrocos bicara…
Karena kami diancam,
dan kamu memaksakan kekuasaan…
maka kami bilang TIDAK kepadamu

Karena kami tidak boleh memilih
dan kamu bebas berencana…
Karena kami bersandal,
dan kamu bebas memakai senapan…
Karena kami harus sopan,
dan kamu punya penjara…
maka TIDAK dan TIDAK kepadamu

Karena kami arus kali,
dan kamu batu tanpa hati,
maka air akan mengikis batu


Universitas TRISAKTI, Jakarta 13 Mei 1998

Senin, 17 November 2014

Lagu Angin


.............
yang diharap tidak ada
yang ada tidak diharapkan
kesadaran hidup adalah pemberontakan
(hidup tidak hanya untuk hidup)
kita hidup untuk menerima kehidupan
kita harus belajar berdamai dengan mimpi
kita harus berkaca di dalam sepi
.............
(Sawung Jabo, Jockie S, WS. Rendra)