Share

Minggu, 05 Juni 2016

Munggahkeun Kaimanan!

Pikeun sakumna urang Sunda pasti apal jeung osok ngiluan munggahan, hiji kaarifan lokal urang Sunda dina nyanghareupan ibadah shaum. pisapoeun deui kana puasa eta kagiatan teh! sakaapal kuring nu disebut munggahan teh baheula mah nganteurkeun kadaharan dina rantang. nguriling ka kadang wargi. dulur-dulur oge tatangga. 

Sabada beres babagi kadaharan utamana sangu katut kalengkepanana (eh enya baheula mah tahu tempe teh mewah, nya ayana teh mun teu dinu hajat nya lamun pas munggahan) di sambung ku diangir. kuramas, adus dina raraga nyangheurapan puasa. Sunat cenah hukumna.

Tapi da ayeuna mah asa geus teu manggih munggahan model kitu teh. duka leuwih praktis duka memang pergeseran budaya. munggahan ayeuna mah biasana balakecrakan bareng di hiji tempat. bisa di imah, di tempat wisata malah keur kaom anu ekonomina rada undak mah biasana di restoran atawa rumah makan. 

Eta kaarifan lokal teh hade pisan! mudah-mudahan ulah nepi ka ngageser tina filosofi awalna. 
lain ngan saukur ngeunahna kadaharan, atawa ramena acara komo deui bari ngahambur-hambur sumberdaya.
munggahan intinana mah persiapan munggahkeun diri (puncakna mah ke pas ibadah shaum)
munggahkeun kaimanan diri
ningkatkeun kualitas katakwaan....
saperti anu jelas kauger dina papagon hirup urang.....Al Quranur Karim!
Wilujeng Mapag Sasih Ramadhan 1437 H
Sajam satengah deui kana adzan Magrib kahiji di sasih Ramadhan

Jumat, 03 Juni 2016

Gus Jakfar (KH. Musfofa Bisri)

 Salah Cerpen Favoritku

GUS JAKFAR

oleh : A Mustofa Bisri
Kompas - 6/23/2002

Kata Kiai, Gus Jakfar itu lebih tua dari beliau sendiri," cerita Kang Solikin suatu hari kepada kawan-kawannya yang sedang membicarakan putera bungsu Kiai Saleh itu, "Saya sendiri tidak paham apa maksudnya.""Tapi, Gus Jakfar memang luar biasa," kata Mas Bambang, pegawai Pemda yang sering mengikuti pengajian Subuh Kiai Saleh, "Matanya itu lho. Sekilas saja beliau melihat kening orang, kok langsung bisa melihat rahasianya yang tersembunyi. Kalian ingat, Sumini anaknya penjual rujak di terminal lama yang dijuluki perawan tua itu. Sebelum dilamar orang sabrang, kan ketemu Gus Jakfar. Waktu itu Gus Jakfar bilang, 'Sum, kulihat keningmu kok bersinar, sudah ada yang ngelamar ya?!'. Tak lama kemudian orang sabrang itu datang melamarnya."
"Kang Kandar kan juga begitu," timpal Mas Guru Slamet, "kalian kan mendengar sendiri ketika Gus Jakfar bilang kepada tukang kebun SD IV itu, 'Kang, saya lihat hidung sampeyan kok sudah bengkok, sudah capek menghirup nafas ya?!' Lho, ternyata besoknya Kang Kandar meninggal." "Ya. Waktu itu saya pikir Gus Jakfar hanya berkelakar," sahut Ustadz Kamil, "nggak tahunya beliau sedang membaca tanda pada diri Kang Kandar." 
"Saya malah mengalami sendiri," kata Lik Salamun, pemborong yang dari tadi sudah kepingin ikut bicara, "waktu itu, tak ada hujan tak ada angin, Gus Jakfar bilang kepada saya, 'Wah saku sampeyan kok mondol-mondol, dapat proyek besar ya?!' Padahal saat itu saku saya justru sedang kempes. Dan percaya atau tidak, esok harinya, saya memenangkan tender yang diselenggarakan pemda tingkat propinsi."
"Apa yang begitu itu yang disebut ilmu kasyaf?" tanya Pak Carik yang sejak tadi hanya asyik mendengarkan. "Mungkin saja," jawab Ustadz Kamil, "makanya saya justru takut ketemu Gus Jakfar. Takut dibaca tanda-tanda buruk saya, lalu pikiran saya terganggu."
***
MAKA ketika kemudian sikap Gus Jakfar berubah, masyarakat pun geger; terutama para santri kalong, orang-orang kampung yang ikut mengaji tapi tidak tinggal di pesantren seperti Kang Solikin, yang selama ini merasa dekat dengan beliau. Mula-mula Gus Jakfar menghilang berminggu-minggu, kemudian ketika kembali tahu-tahu sikapnya berubah menjadi manusia biasa. Dia sama sekali berhenti dan tak mau lagi membaca tanda-tanda. Tak mau lagi memberikan isyarat-isyarat yang berbau ramalan. Ringkas kata dia benar-benar kehilanga keistimewaannya.
"Jangan-jangan ilmu beliau hilang pada saat beliau menghilang itu," komentar Mas Guru Slamet penuh penyesalan, "wah, sayang sekali! Apa gerangan yang terjadi pada beliau?"
"Kemana beliau pergi saat menghilang pun, kita tidak tahu," kata Lik Salamun, "kalau saja kita tahu kemana beliau, mungkin kita akan mengetahui apa yang terjadi pada beliau dan mengapa beliau kemudian berubah."
"Tapi bagaimana pun, ini ada hikmahnya," ujar Ustadz Kamil, "paling tidak kini, kita bisa setiap saat menemui Gus Jakfar tanpa merasa deg-degan dan was-was; bisa mengikuti pengajiannya dengan niat tulus mencari ilmu. Maka jika kita ingin mengetahui apa yang terjadi dengan gus kita ini, hingga sikapnya berubah atau ilmunya hilang, sebaiknya kita langsung saja menemui beliau.
"Begitulah, sesuai usul Ustadz Kamil, pada malam Jumat sehabiswiridan salat Isya, dimana Gus Jakfar prei, tidak mengajar,rombongan santri kalong sengaja mendatangi rumahnya. Kali ini hampir semua anggota rombongan merasakan keakraban Gus Jakfar, jauh melebihi yang sudah-sudah. Mungkin karena kini tidak ada lagi sekat berupa keseganan, was-was, dan rasa takut. Setelah ngobrol kesana-kemari akhirnya Ustadz Kamil berterus terang mengungkapkan maksud utama kedatangan rombongan, "Gus, di samping silaturahmi seperti biasa, malam ini kami datang juga dengan sedikit keperluan khusus. Singkatnya, kami penasaran dan sangat ingin tahu latar belakang perubahan sikap sampeyan."
 "Perubahan apa?" tanya Gus Jakfar sambil tersenyum penuh arti, "Sikap yang mana? Kalian ini ada-ada saja. Saya kok merasa tidak berubah." "Dulu sampeyan kan biasa dan suka membaca tanda-tanda orang," tukas Mas Guru Slamet, "kok sekarang tiba-tiba mak pet, sampeyan tak mau lagi membaca bahkan diminta pun tak mau."
 "O, itu," kata Gus Jakfar seperti benar-benar baru tahu. Tapi dia tidak segera meneruskan bicaranya. Diam agak lama, baru setelah menyeruput kopi di depannya, dia melanjutkan: "Ceritanya panjang." Dia berhenti lagi, membuat kami tidak sabar, tapi kami diam saja. "Kalian ingat, ketika saya lama menghilang?" akhirnya Gus Jakfar bertanya, membuat kami yakin dia benar-benar siap untuk bercerita, maka serempak kami mengangguk. "Suatu malam saya bermimpi ketemu ayah dan saya disuruh mencari seorang wali sepuh yang tinggal di sebuah desa kecil di lereng gunung yang jaraknya dari sini sekitar 200 km ke arah selatan. Nama Kiai Tawakkal. Kata ayah dalam mimpi itu, hanya kiai-kiai tertentu yang tahu tentang kiai yang usianya sudah lebih 100 tahun ini. Santri-santri yang belajar kepada beliau pun rata-rata sudah disebut kiai di daerah masing-masing." "Terus terang, sejak bermimpi itu, saya tidak bisa menahan keingina saya untuk berkenalan dan kalau bisa berguru kepada wali Tawakka itu. Maka dengan diam-diam dan tanpa pamit siapa-siapa, saya pu pergi ke tempat yang ditunjukkan ayah dalam mimpi dengan niat bilbarakah dan menimba ilmu beliau. Ternyata ketika sampai disana hampir semua orang yang saya jumpai mengaku tidak mengenal nama Kiai Tawakkal. Baru setelah seharian melacak kesana-kemari, ada seorang tua yang memberi petunjuk. 'Cobalah nakmas ikuti jalan setapak disana itu,' katanya, 'Nanti nakmas akan berjumpa dengan sebuah sungai kecil, terus saja nakmas menyeberang. Begitu sampai seberang, nakmas akan melihat gubuk-gubuk kecil dari bambu. Nah kemungkinan besar orang yang nakmas cari akan nakmas jumpai di sana. Di gubuk yang terletak di tengah-tengah itulah tinggal seorang tua seperti yang nakmas gambarkan. Orang sini memanggilnya Mbah Jogo. Barangkali itulah yang nakmas sebut Kiai siapa tadi?' 'Kiai Tawakkal.' 'Ya, kiai Tawakal. Saya yakin itulah orangnya, Mbah Jogo.' Saya pun mengikuti petunjuk orang tua itu, menyeberang sungai dan menemukan sekelompok rumah gubuk dari bambu. Dan betul, di gubuk bambu yang terletak di tengah-tengah, saya menemukan Kiai Tawakkal alias Mbah Jogo sedang dikelilingi santri-santrinya yang rata-rata sudah tua. Saya diterima dengan penuh keramahan, seolah-olah saya sudah merupakan bagian dari mereka. Dan kalian tahu? Ternyata penampilan Kiai Tawakkal sama sekali tidak mencerminkan sebagai orang tua. Tubuhnya tegap dan wajahnya berseri-seri. Kedua matanya indahmemancarkan kearifan. Bicaranya jelas dan teratur. Hampir semua kalimat yang meluncur dari mulut beliau bermuatan kata-kata hikmah."

 Tiba-tiba Gus Jakfar berhenti, menarik nafas panjang, baru kemudian melanjutkan, "Hanya ada satu hal yang membuat saya terkejut dan terganggu. Saya melihat di kening beliau yang lapang, ada tanda yang jelas sekali, seolah-olah saya membaca tulisan dengan huruf yang cukup besar berbunyi 'Ahli neraka'. Astaghfirullah! Belum pernah selama ini saya melihat tanda yang begitu gamblang. Saya ingin tidak mempercayai apa yang saya lihat. Pasti saya keliru. Masak seorang yang dikenal wali, berilmu tinggi, dan disegani banyak kiai yang lain, disurat sebagai ahli neraka. Tak mungkin. Saya mencoba meyakin- yakinkan diri saya bahwa itu hanyalah ilusi, tapi tak bisa. Tanda itu terus melekat di kening beliau. Bahkan belakangan saya melihat tanda itu semakin jelas ketika beliau habis berwudhu. Gila."

 "Akhirnya niat saya untuk menimba ilmu kepada beliau, meskipun secara lisan memang saya sampaikan demikian, dalam hati sudah berubah menjadi keinginan untuk menyelidiki dan memecahkan keganjilan ini. Beberapa hari saya amati perilaku Kiai Tawakkal, saya tidak melihat sama sekali hal-hal yang mencurigakan. Kegiatan rutinnya sehari-hari tidak begitu berbeda dengan kebanyakan kiai yang lain: mengimami salat jamaah; melakukan salat-salat sunnat seperti dhuha, tahajjud, witir, dan sebagainya, mengajar kitab-kitab (umumnya kitab-kitab besar); mujahadah; dzikir malam; menemui tamu; dan semisalnya. Kalau pun beliau keluar biasanya untuk memenuhi undangan hajatan atau-dan ini sangat jarang sekali- mengisi pengajian umum. Memang ada kalanya beliau keluar pada malam-malam tertentu; tapi menurut santri-santri yang lama, itu pun merupakan kegiatan rutin yang sudah dijalani Kiai Tawakkal sejak muda. Semacam lelana brata kata mereka.
 "Baru setelah beberapa minggu tinggal di 'pesantren bambu', saya mendapat kesempatan atau tepatnya keberanian untuk mengikuti Kiai Tawakkal keluar. Saya pikir inilah kesempatan untuk mendapatkan jawaban atas tanda tanya yang selama ini mengganggu saya."
"Begitulah, pada suatu malam purnama, saya melihat kiai keluar dengan berpakaian rapi. Melihat waktunya yang sudah larut, tidak mungkin beliau pergi untuk mendatangi undangan hajatan atau lainnya. Dengan hati-hati, saya pun membuntutinya dari belakang; tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh. Dari jalan setapak hingga ke jalan desa, kiai terus berjalan dengan langkah yang tetap tegap. Akan kemana beliau gerangan? Apa ini yang disebut semacam
lelana brata? Jalanan semakin sepi; saya pun semakin berhati-hati mengikutinya, khawatir tiba-tiba kiai menoleh ke belakang."
 "Setelah melewati kuburan dan kebun sengon, beliau berbelok. Ketika kemudian saya ikut belok, saya kaget, ternyata sosoknya tak kelihatan lagi. Yang terlihat justru sebuah warung yang penuh pengunjung. Terdengar gelak tawa ramai sekali. Dengan bengong, saya mendekati warung terpencil dengan penerangn petromak itu. Dua orang wanita-yang satu masih muda dan yang satunya lagi agak lebih tua- dengan dandanan yang menor, sibuk melayani pelanggan sambil menebar tawa genit kesana-kemari. Tidak mungkin kiai mampir ke warung ini, pikir saya; ke warung biasa saja tidak pantas, apalagi warung yang suasananya saja mengesankan kemesuman ini. 'Mas Jakfar!' tiba-tiba saya dikagetkan oleh suara yang tidak asing di telinga saya, memanggil-manggil nama saya. Masya Allah, saya hampir-hampir tidak mempercayai pendengaran dan penglihatan saya. Memang betul, mata saya melihat Kiai Tawakkal melambaikan tangan dari dalam warung. Ah. Dengan kikuk dan pikiran tak karuwan, saya pun terpaksa masuk dan menghampiri kiai saya yang duduk santai di pojok. Warung penuh dengan asap rokok. Kedua wanita menor menyambut saya dengan senyum penuh arti. Kiai Tawakkal menyuruh orang di sampingnya untuk bergeser, 'Kasi kawan saya ini tempat sedikit!'. Lalu, kepada orang- orang yang ada di warung, kiai memperkenalkan saya. Katanya: 'Ini kawan saya, dia baru datang dari daerah yang cukup jauh. Cari pengalaman katanya.' Mereka yang duduknya dekat, serta merta mengulurkan tangan, menjabat tangan saya dengan ramah; sementara
yang jauh, melambaikan tangan." "Saya masih belum sepenuhnya menguasai diri, masih seperti dalam mimpi, ketika tiba-tiba saya dengar kiai menawari, 'Minum kopi ya?' Saya mengangguk asal mengangguk. 'Kopi satu lagi, yu!' kata kiai kemudian kepada wanita warung sambil mendorong piring jajan ke dekat saya. 'Silakan! Ini namanya rondo royal, tape goreng kebanggaan warung ini!' Lagi-lagi saya hanya menganggukkan kepala asal mengangguk."
 "Kiai Tawakkal kemudian asyik kembali dengan 'kawan-kawan'nya dan membiarkan saya bengong sendiri. Saya masih tak habis pikir, bagaimana mungkin Kiai Tawakkal yang terkenal waliyullah dan dihormati para kiai lain, bisa berada di sini. Akrab dengan orang- orang beginian; bercanda dengan wanita warung. Ah, inikah yang disebut lelana brata? Ataukah ini merupakan dunia lain beliau yang sengaja disembunyikan dari umatnya? Tiba-tiba saya seperti mendapat jawaban dari tanda tanya yang selama ini mengganggu saya dan karenanya saya bersusah payah mengikutinya malam ini. O, pantas di keningnya kulihat tanda itu. Tiba-tiba sikap pandangan saya terhadap beliau berubah. 'Mas, sudah larut malam," tiba-tiba suara Kiai Tawakkal membuyarkan lamunan saya, 'kita pulang, yuk!' Dan tanpa menunggu jawaban saya, kiai membayari minuman dan makanan kami, berdiri, melambai kepada semua, kemudian keluar. Seperti kerbau dicocok hidung, saya pun mengikutinya. Ternyata setelah melewati kebun sengon, Kiai Tawakkal tidak menyusuri jalan-jalan yang tadi kami lalui, 'Biar cepat, kita mengambil jalan pintas saja!' katanya."

"Kami melewati pematang, lalu menerobos hutan, dan akhirnya sampai di sebuah sungai. Dan, sekali lagi saya menyaksikan kejadian yang menggoncangkan. Kiai Tawakkal berjalan di atas permukaan air sungai, seolah-olah di atas jalan biasa saja. Sampai di seberang, beliau menoleh ke arah saya yang masih berdiri mematung. Beliau melambai, 'Ayo!' teriaknya. Untung saya bisa berenang; saya pun kemudian berenang menyeberangi sungai yang cukup lebar. Sampai di seberang, ternyata Kiai Tawakkal sudah duduk-duduk di bawah pohon randu alas, menunggu. 'Kita istirahat sebentar,' katanya tanpa menengok saya yang sibuk berpakaian, 'kita masih punya waktu, insya Allah sebelum subuh kita sudah sampai pondok.'

Setelah saya ikut duduk di sampingnya, tiba-tiba dengan suara berwibawa, kiai berkata mengejutkan, 'Bagaimana? Kau sudah menemukan apa yang kau cari? Apakah kau sudah menemukan pembenar dari tanda yang kau baca di kening saya? Mengapa kau seperti masih terkejut? Apakah kau yang mahir melihat tanda-tanda, menjadi ragu terhadap kemahiranmu sendiri?' Dingin air sungai rasanya semakin menusuk mendengar rentetan pertanyaan-pertanyaan beliau yang menelanjangi itu. Saya tidak bisa berkata apa-apa. Beliau yang kemudian terus berbicara. 'Anak muda, kau tidak perlu mencemaskan saya hanya karena kau melihat tanda 'Ahli neraka' di kening saya. Kau pun tidak perlu bersusah-payah mencari bukti yang menunjukkan bahwa aku memang pantas masuk neraka. Karena pertama, apa yang kau lihat belum tentu merupakan hasil dari pandangan kalbumu yang bening. Kedua, kau kan tahu, sebagaimana neraka dan sorga, aku adalah milik Allah. Maka terserah kehendak-Nya, apakah Ia mau memasukkan diriku ke sorga atau ke neraka. Untuk memasukkan hambaNya ke sorga atau neraka, sebenarnyalah Ia tidak memerlukan alasan. Sebagai kiai, apakah kau berani menjamin amalmu pasti mengantarkanmu ke sorga kelak? Atau kau berani mengatakan bahwa orang-orang di warung tadi yang kau pandang sebelah mata itu, pasti masuk neraka? Kita berbuat baik karena kita ingin dipandang baik oleh-Nya, kita ingin berdekat-dekat denganNya, tapi kita tidak berhak menuntut balasan kebaikan kita. Mengapa? Karena kebaikan kita pun berasal dari-Nya. Bukankah begitu?' Aku hanya bisa menunduk. Sementara Kiai Tawakkal terus berbicara sambil menepuk-nepuk punggung saya, 'Kau harus lebih berhati-hati bila mendapat cobaan Allah berupa anugerah. Cobaan yang berupa anugerah tidak kalah gawatnya dibanding cobaan yang berupa penderitaan. Seperti mereka yang di warung tadi, kebanyakan mereka orang susah. Orang susah sulit kau bayangkan bersikap takabbur, ujub, atau sikap- sikap lain yang cenderung membesarkan diri sendiri. Berbeda dengan mereka yang mempunyai kemampuan dan kelebihan, godaan untuk takabbur dan sebagainya itu datang setiap saat. Apalagi bila kemampuan dan kelebihan itu diakui oleh banyak pihak.' Malam itu saya benar-benar merasa mendapatkan pemahaman dan pandangan baru dari apa yang selama ini sudah saya ketahui. 'Ayo, kita pulang!' tiba-tiba kiai bangkit, 'Sebentar lagi subuh. Setelah sembahyang subuh nanti, kau boleh pulang.' Saya tidak merasa diusir; nyatanya memang saya sudah mendapat banyak dari kiai luar biasa ini."

"Ketika saya ikut bangkit, saya celingukan. Kiai Tawakkal sudah tak tampak lagi. Dengan bingung saya terus berjalan. Kudengar azan subuh berkumandang dari sebuah surau, tapi bukan surau bambu. Seperti orang linglung, saya datangi surau itu dengan harapan bisa ketemu dan berjamaah salat subuh dengan Kiai Tawakkal. Tapi, jangankan Kiai Tawakkal, orang yang mirip beliau pun tak ada. Tak seorang pun dari mereka yang berada di surau itu yang saya kenal. Baru setelah sembahyang, seseorang menghampiri saya, 'Apakah sampeyan Jakfar?' tanyanya. Ketika saya mengiyakan, orang itu pun menyerahkan sebuah bungkusan yang ternyata berisi barang-barang milik saya sendiri. 'Ini titipan Mbah Jogo, katanya milik sampeyan.' 'Beliau dimana?' tanya saya buru-buru. 'Mana saya tahu?' jawabnya, 'Mbah Jogo datang dan pergi semaunya. Tak ada seorang pun yang tahu dari mana beliau datang dan kemana beliau pergi.' Begitulah ceritanya. Dan Kiai Tawakkal alias Mbah Jogo yang telah berhasil merubah sikap saya itu tetap merupakan misteri."

Gus Jakfar sudah mengakhiri ceritanya, tapi kami yang dari tadi mendengarkan, masih diam tercenung, sampai Gus Jakfar kembali menawarkan suguhannya. ***

Rembang, Mei 2002


Kamis, 02 Juni 2016

Runtuhnya Warung Tetangga Kami

Ketika sebuah minimarket merek terkenal mulai beroperasi tidak jauh dari tempat tinggalku perasaanku sedih-sedih senang  (mirip ngeri-ngeri sedaplah). Senangnya, kalau mo beli barang yang ga ada di warung tetangga tidak harus ke pusat kota. Sedihnya, menurut asumsiku setidaknya kehadiran minimarket itu akan menurunkan omset warung-warung di sekitarnya. (mudah-mudahan saja tidak). Kalau pakai hitungan kasar, minimal 10 warung akan terdampak. So, setidaknya 10 keluarga yang ekonominya ditopang oleh warung itu akan terganggu. Kalau misalnya 10 warung itu menopang kehidupan sedikitnya 4 orang maka akan ada  40 orang yang kehidupannya agak goyang-goyang. Asumsi saya paling minimarket tersebut menampung tenaga kerja maksimal 4-7 orang, dan itu pun biasanya angkatan kerja baru yang belum punya kewajiban untuk menanggung beban hidup orang lain.
Tidak untuk menyalahkan apa-apa dan siapa-siapa!
Hanya diri ini kembali diyakinkan bahwa kehidupan ini memang keras!
Para pemodal besar itu kini telah hadir di pekarangan-pekarangan kami.
“The survival of the fittest….yang kuatlah yang akan menang!”, begitu kata Mbah Charles Darwin.
Walau konteksnya seperti melihat kelinci yang harus bertarung dengan gajah!
Ya mo gmna lagi, itu kenyataan yang harus kita terima. Ada kebebasan berusaha dan berekonomi,  ada pula kebebasan memilih!
Sekali-kali ya kita juga ke Minimarket!
Tapi, bo ya kita juga jangan melupakan saudara-saudara kita yang membuka warung!
Marilah kita lebih menaruh solidaritas pada mereka!
Walau harga mungkin sedikit lebih mahal!
Walau suasananya ga adem dan agak temaram!
Walau tanpa potongan harga yang tidak kami pahami benar bagaimana caranya!
Walau kadang-kadang harus nunggu lama karena penjaga warungnya entah kemana!

Tapi mereka juga adalah kita!
Tetangga-tetangga kita juga adalah saudara kita yang harus kita perhatikan kelancaran ekonominya! membelinya berarti secara tidak langsung memperkuat ketahanan ekonomi keluarganya! Kalau ekonomi keluarga-keluarga di sekitar kita kuat, berarti ekonomi negara kita juga akan kuat!
bukan begitu!
Ah ini mah igauan ekonomom kelas kampung!
yang pengantar ekonomi saja cuma dapat C!
makanya jangan terlalu dipercaya!

Senin, 30 Mei 2016

Kang Pecel


Hari ini Kang Pecel ga masuk! Racikan kopinya biasa menemani kami bekerja, semacam pemantik semangat untuk mengerjakan tugas-tugas keseharian.
“Mungkin sedang umroh!”, celetuk seorang kawan! Kebetulan hari minggu kemarin ada acara Jalan Santai dalam rangka HUT Kabupaten kami yang hadiah utamanya adalah umroh.
Celetukan-celetukan lain bermunculan sambil diiringi derai tawa. Kami kehilangan!
Ya itulah pentingnya Kang Pecel bagi kami.
Aku sendiri ndak tahu siapa nama aslinya. Kawan-kawan panggil  Cel…Cel! Ya aku pun ikut!
"Kang Ecel, kopi hideung hiji, ulah seueur teuing caina!".
Beliau sudah lama berdagang kopi, minuman ringan dan sejenisnya di tempat kami bekerja. Jauh sebelum aku bekerja di tempat ini.
dan sepertinya ia adalah seorang legenda hidup!
Banyak orang merindukan racikan kopinya yang memang menyatu dengan dinamika politik dan atmosfer  kerja di tempat kami.
Banyak tokoh politik yang ingin mengenang kisah hidupnya di tempat kami bekerja dengan Kang Pecel sebagai salah satu bagian pentingnya!
Bagiku Kang Pecel adalah cermin sebuah totalitas
Ya, saya belajar. Bahwa ternyata hidup ini bukan soal siapa kita dan di mana kita. 
Hidup itu adalah tentang peran dan manfaat!
Hidup adalah tentang peran apa yang kita mainkan dimanapun dan ke manapun ketentuan Gusti Alloh  menempatkan jiwa dan raga  ini. 
Peran itulah yang kelak kita pertanggungjawabkan dihadapan-Nya. Mungkin saja nanti peran itu ia jadi bekal atau mungkin saja jadi  beban. Peran yang membuat syukur karena jadi ladang amal atau hanya jadi sebuah sesal !

Rabu, 25 Mei 2016

Renungan

Ini masih saya copas dari grup WA, super sekali analisisnya. Saya simpan pada posting ini untuk dibagikan (terima kasih buat penulisnya, izin share di sini).

Riset Ilmiah membuktikan:
1. Smartphone, 70% fiturnya tidak terpakai
2. Mobil mewah, 70% speednya mubazir
3. Villa mewah, 70% luasnya dibiarkan kosong
4. Universitas, 70% materi kuliahnya tak dapat diterapkan
5. Seabreg kegiatan sosial masyarakat, 70%-nya iseng² tak bermakna
6. Pakaian & peralatan dalam suatu rumah, 70%-nya nganggur tak terpakai
7. Seumur hidup cari uang/harta, 70%-nya dinikmati ahli waris.

“Hidup seperti pertandingan bola”

Di babak pertama (masa muda) menanjak karena pengetahuan, kekuasaan, jabatan, usaha Bisnis, gaji dsb.

Namun di babak kedua (masa tua) menurun karena darah tinggi, trigliserida, gula darah, asam urat, kolestrol dsb.

Waspadalah dari awal hingga akhir, kita harus menang 2 babak !!!

– Tidak sakit, juga harus Medical Check Up.
– Tidak haus, tetap harus minum.
– Meski benar, juga harus mengalah
– Meski Powerfull, juga perlu merendah
– Tidak Lelah pun, perlu Istirahat
– Tidak Kaya pun, wajib bersyukur
– Sesibuk apapun, tetap perlu olahraga

Sadarlah, hidup itu pendek, pasti ada saatnya Finish

Jangan tertipu dg usia MUDA
Karena syarat mati tak harus TUA

Jangan terpedaya dg badan SEHAT
Karena syarat mati tak harus SAKIT

Teruslah berbuat baik, berkata baik, memberi nasihat yg baik

Walaupun tak banyak orang yg memahamimu,

Jadilah seperti JANTUNG, yg tak terlihat tetapi terus berdenyut setiapv saat hingga membuat kita terus hidup menjelang akhir hayat

Ajal tak  mengenal waktu & usia,


Jadi teruslah berbuat baik, mengucap syukur atas apa yang sudah ada & menyampaikan kebenaran terhadap sesama.

Senin, 09 Mei 2016

Epistema Bahagia


Pengen meracau tentang bahagia, kebahagiaan, happy and happiness!
Ikut senang ketika membaca banyak timeline dari teman-teman baik Facebook ataupun Twitter yang update status tentang kebahagiaan mereka. 
bahagia karena ini senang karena itu
bahagia dapat ini senang dapat itu
bahagia mengalami ini senang mengalami itu
bahagia dapat kesana senang dapat ke situ

saya ko jadi inget pernyataan yang bunyinya sebagai berikut :
"ketika saya mengatakan,saya ikhlas!"....maka ikhlasnya perlu diikhlaskan lagi alias saya sebenarnya ndak atau kurang ikhlas". Alasannnya karena ikhlas yang sebenar-benarnya ikhlas itu ya ndak perlu diproklamasikan.Ikhlas itu tidak perlu pengakuan! ndak perlu diumumkan! Malah kita ndak perlu tahu kita ikhlas apa ndak! Serahkan saja sama Gusti Alloh yang maha tahu dan maha teliti!
Ikhlas adalah saripati hidup yang ndak bisa diaktingkan! ndak bisa!

Terkait bahagia,
Wah jangan-jangan bahagia juga begitu!
Ketika saya mengatakan, saya bahagia! maka bahagianya perlu dibahagiakan lagi....alias saya belum bahagia. Bahagia yang sebenar-benarnya bahagia itu ya ndak perlu diproklamasikan.Bahagia itu ndak perlu pengakuan! ndak perlu diumumkan! Karena boleh jadi ketika orang baca naskah proklamasi bahagia kita.....eh kita sudah ga bahagia lagi! berapa lama sih umur episode bahagia! saya sering mengalami baru saja ketawa-ketawa eh itungan menit dapat kabar pikapusingeun! berapa lama sih enak makanan dimulut, indah pemandangan dimata, dan lain-lain!

Malah kita ndak perlu tahu kita sedang bahagia apa ndak! Tiap helaan nafas kita, langkah kaki dan ayunan tangan hiasi dengan pasrah dan tawakal!bukankah Islam itu sendiri bermakna pasrah, berserah diri! Maqom insaniah kita akan meninggi manakala mampu senang dalam sedih dan sedih dalam senang!

Bahagia itu adalah hakekat hidup yang ndak bisa diaktingkan! kalau ada yang bisa akting bahagia berarti bahagianya masih bahagia-bahagiaan!

Trus kalau pengumuman sedih!
sepertinya kalau itu hampir sembilan puluh perseratus itu benar!
alasannya saya aza tidak ingin terlihat sedih dan tidak bahagia!

Tulisan ini dapat mengakibatkan pusing, sebel, mual-mual gangguan perasaan dan pikiran. Oleh karena itu tulisan ini jangan terlalu dipercaya, maklum hanya igauan orang yang lg overload!

Ciamis, 09 Mei 2016


Minggu, 20 Maret 2016

Elegi Seekor Laler Ijo (Lalat Hijau)

Laler Ijo (Lalat Hijau) sumber : kaheel7.com
Ketika sedang leyeh-leyeh di pinggir kolam kecil belakang rumah sambil menikmati celoteh ikan mujaer sedang makan sore dan aroma ikan asin sedang digoreng tiba-tiba brerrrr...air kolam beriak karena seekor lalat hijau jatuh di air! Aroma ikan asin telah mengundang rombongan laler ijo dan salah satunya entah karena sebab apa jatuh di kolam. 


Dugaanku karena terbang terlalu rendah dan sehingga tidak mampu merespon sinyal bahaya dari radarnya hingga akhirnya menabrak dinding kolam.  Itulah analisa sementara dari KNKTL (Komite Nasional Keselamatan Transportasi Lalat) tentang jatuhnya laler ijo sore ini. Sepertinya black box tidak akan ditemukan karena tetiba.....hap ikan mujaerku memakan lalat bulat-bulat. Tamatlah riwayat sang lalat!

Tinggal aku termangu di pinggir kolam dan pikiranku melayang mencoba bermanuver seperti sang lalat. Tiba-tiba bruk....lahir beberapa analisa filosofis bhahahahah. Menurutku laler ijo adalah seorang the flying master. Kecepatannya terbangnya mengalahkan suara kepakan sayapnya ditambah gerakannya yang lincah menyelinap di berbagi halangan medan memperkuat penasbihannya sebagai jago terbang. Kualitas radar penglihatan dan penciumannya beda-beda tipis dengan RLS Zhuk-A. Tak heran ia bisa menganalisa kontur medan dalam kecepatan tinggi dan mengendus bau ikan asin yang digoreng dari jarak ratusan meter! Fantastis untuk sebagai sistem dalam konstruksi  individu sebesar lalat!

Lesson learning-nya adalah : sejago-jagonya, semaster-masternya, sekuat-kuatnya, secerdas-cerdasnya,  selihai-lihainya, sekuasa-kuasanya makhluk, .....ada saat dia tidak kuasa melawan takdir Sang Khalik!