Senin, 04 Agustus 2014

Ugh...

Bulan Juli 2014 ga nulis sama sekali. Atmosfer pilpres 2014 terasa begitu mengharu biru. Passion untuk menulis nyaris hilang terganti dengan dinamika perasaan yang kadang aku juga bingung untuk memaknainya. Pada Pilpres tahun ini aku merasa involved sekali. Padahal kadang kalau direnungi lebih dalam.....heheheheheh. Tapi hikmahnya adalah bahwa dalam sesuatu itu jangan terlalu, sedang-sedang saja.  Sebatas menggunakan hak. Memilih yang diyakini.  Keyakinan seseorang terhadap sesuatu memang berbeda. Banyak faktor yang membangun sebuah keyakinan....dan terkadang keyakinan itu seperti cinta!terkadang merontokan logika.

Tapi itulah seninya berbeda.Saling menghormati dan menghargai adalah pelajaran paling penting dari sebuah perbedaan. Ketika dukungan kita menang, hanya sebatas eforia belaka yang mungkin hanya bertahan beberapa minggu selanjutnya hidup menjadi sesuatu yang harus diperjuangankan. Ada kutipan di  http://rinaldimunir.wordpress.com/ terkait fenomena pasca helatan pilpres.
Saya menutup tulisan ini dengan mengutip surel dari rekan saya di milis, sesama dosen ITB juga. Kata-katanya perlu kita renungkan.
Siapapun pemenang Prabowo vs Jokowi, hanya berpengaruh SEBENTAR pada penggemar fanatik salah satu calon. Penggemar fanatik Capres yang menang akan senang hatinya, dan penggemar fanatik Capres yang kalah akan sedih hatinya. Hanya SEBENTAR teman!! Pada masa selanjutnya yang panjang, sangat mungkin terjadi situasi berbalik 180 derajad:
1.”Mantan” penggemar capres yang menang, justru jadi sebal, karena ternyata capres ini TIDAK SEBAIK yang mereka yakini sebelum pilpres.
2.”Mantan” penggemar capres yang kalah, justru berbalik menjadi penggemar capres yang menang, karena ternyata capres ini TIDAK SEBURUK yang mereka yakini sebelum pilpres

Sabtu, 14 Juni 2014

DUNIA BELUM BERHENTI BERPUTAR LHO…



Empat tahun lalu  Arjen Robben tertunduk lesu. Dia kalah dalam duel one on one dengan Iker Casillas. Tendangannya masih bias diblok kipper nomor satu Spanyol tersebut. Padahal itu adalah peluang terbaiknya atau sekaligus peluang terbaik Belanda dalam Final Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Kalau itu jadi gol mungkin sejarah akan mencatat lain.   Tapi itulah hasil maksimal yang diperoleh Belanda di Afrika Selatan. Masih akrab dengan julukan spesialiasi runner up. 

Kini empat tahun berselang di pertandingan pertama Grup B Belanda kembali bertemu Spanyol. Dalam konteks head to head Arjen Robben dan Iker Casillas, giliran Kiper Spanyol yang tertunduk lesu.  Empat tahun yang lalu kakinya membuat Arjen Robben seperti terlihat bodoh namun sekarang dua gol Robben dimana salah satu kecohan dribblingnya giliran membuat Casillas terlihat bodoh.

Itulah dunia memang. Seperti Tuhan katakan bahwa kemenangan itu dipergilirkan. Ada saat di atas ada saat di bawah. Kadang terlihat pintar kadang terlihat bodoh. Suatu saat beruntung dan lain waktu sial. Ada saat menang ada saat kalah. Alangkah bahagia seorang muslim ketika mampu bersikap dan berlaku sama terhadap kemenangan dan kekalahan. Tetap bershabar dan bersyukur.

Sabtu, 24 Mei 2014

Logika yang Teramputasi



Menjelang Pilpres eskalasi suhu politik semakin meninggi. Baik di level elit ataupun massa akar rumput. Baik di level praktisi maupun simpatisan. Saling menghujat, menjatuhkan, memaki dan lain-lain. Beberapa pengamat sudah kehilangan netralitasnya, entah kenapa!Mungkin karena sudah punya hutang budi atau hutang pekerjaan alias proyek.

Mengapa harus sebegitunya!benarkah karena idealisme atau pragmatisme, atau riwayat kebencian akut yang telah lama mendarah daging. Media sosial ramai dengan perang kata-kata. Mungkin mereka menganggap komentar dan pilihan dia akan membuat banyak orang berlaku dan berpikiran sama.  Kecuali orang yang memang punya kepentingan (minimal takut beda) rasa-rasanya mayoritas kita sudah cerdas memilih. Dalam memutuskan untuk memilih paling tidak ada tiga kata kunci : ideologi, pragmatisme (baca:kepentingan), dan kebencian.

Sekali lagi!selamat menyiksa diri karena sikap suka dan tidak suka.

Rabu, 21 Mei 2014

Hope Still Hope Always Hope

Memelihara ikan gurame akan banyak mengajarkan kita tentang kehidupan dan harapan. Entah sudah berapa ratus anak ikan gurame yang saya beli.....dan siklusnya terus berulang...kena hama mati!paling tersisa 10%. Angka itupun masih bagus dibanding 0%. Ikan ini memang unik, ada yang bilang bodi Rambo tapi hati Rinto, rentan sekali terhadap hama penyakit. Ditambah pertumbuhannya yang lambat maka pantaslah bila ikan ini nilai ekonomisnya tinggi.

Punya ikan gurame seolah prestise tersendiri. Melihat ikan gurami memakan dedaunan atau pelet akan menimbulkan sensasi tersendiri....kalau kata teman "boga hutang ge jadi poho". Kedamaian.

Walaupun sering beli dan sering mati, tapi kata kapok seolah mati.....beli lagi mudah-mudahan kali ini berhasil!itulah berharap, masih berharap dan selalu berharap

Rabu, 14 Mei 2014

DL Pertama

Kemarin, 13 Mei 2014 diperintahkan mengikuti acara Pemeringkatan e-Government Indonesia (PeGI) Kabupaten/Kota se-Provinsi Jawa Barat Tahun 2014 di Hotel Naripan Bandung. Momen ini merupakan dinas luar pertama saya di tempat kerja yang baru, Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Ciamis.  Bertemu dan bersosialisasi dengan teman baru senantiasa menuntut adaptasi dan menghadirkan nuansa baru. 

Kamis, 08 Mei 2014

Pindah Kerja

Hari ini serasa jadi CPNS kembali.  Hampir 9 tahun bekerja di Kantor Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat Kabupaten Ciamis, diselingi 1,5 tahun di Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Kabupaten Ciamis antara tahun 2007 s.d 2008 kini memulai memulai hari sebagai Pegawai Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kabupaten Ciamis.

Lingkungan baru, deskripsi pekerjaan baru, rekan sejawat dan atasan baru yang otomatis perlu adaptasi. Mudah-mudahan semuanya berjalan lancar, diberi kemudahan diberikan kekuatan terhadap tantangan yang akan dihadapi, keberkahan dan keselamatan di dunia dan akhirat.

Asa untuk memberikan manfaat bagi semuanya mudah-mudahan selalu jadi nafas pergerakan.

Bismillahirrahmanirrahim
Laa Haula Walaa quwwata Illa Billah!

Senin, 21 April 2014

Sebelas empat-empat belas




Sampai jualah masa itu
Ya, sebuah hari pentasbihan
menjadi sesuatu di bawah kasta tertinggi
walau tersisa tanya
sejumput keraguan
akan tanggung jawab dan penghilangan keakuan

diploma level tiga
sarjana level satu
saksi perjalanan intelektual
masa indah di perbatasan Jakarta Depok
ku rengkuh semua diantara ada dan tiada
kaki yang hampir lelah
baju yang mulai robek
perut yang selalu berontak
peluh yang tak kuasa kubendung dan mata yang terjaga
tapi aku pantang mengeluarkan air mata
kecuali untuk Tuhan tercinta!

Bermuara di sabuga sebelas april dua ribu empat belas (walau aku masih punya mimpi ini bukan pelabuhan intelektualku yang terakhir)