Senin, 17 Maret 2025

Mengisi Kultum

 


Sudah menjadi tradisi di Mesjid tempat kami bekerja, 
sehabis Shalat Dzuhur suka diadakan Kuliah Tujuh Menit. 
Dan sehabis Dzuhur kali ini merupakan giliran saya.

Bismillah saja, saya sharing pengalaman saya sebagai seorang survivor penyakit kronis.
Dalam kesempatan ini saya ingin sharing salah satu episode hidup yang dialami, sakit. Sakit kronis, bukan sakit biasa yang 1-3 hari minum obat selanjutnya sembuh.
Walaupun ada di nomor enam, bukan berarti iman kepada qodo dan qodar adalah rukun iman yang paling mudah. Takdir yang kita alami merupakan merupakan sarana untuk membuktikan apakah kita percaya kepada Alloh, percaya bahwa Alloh yang menentukan hidup kita beserta atribut-atributnya, jodo, pekerjaan, anak, rejeki, sakit, sehat dan kematian kita.  Merupakan ujian keimanan yang berat ketika qodarulloh  yang kita alami tidak sesuai dengan rencana dan harapan kita. 

Sudah 7 tahun Alloh mengurangi kesehatan saya. 
Sekarang hidup dalam  fase new normal (kaya jaman covid ya) berjalan seperti biasa namun ada keterbatasan dalam beberapa hal. 
Dengan takdir Entah harus kecewa atau senang, sebab pengalaman selama ini pula saya seolah disadarkan. 
Apa yang saya alami seperti sebuah  tamparan Tuhan. 
Bukan dengan tangan, bukan dengan suara lantang. 
Tapi dengan cara yang pelan, dalam, lama dan menyadarkan.
Kurang menyadarai sejak kapan hati ini mulai mengeras. Mungkin karena terlalu sibuk mengejar dunia, Mungkin juga karena semakin jarang berdoa, semakin lupa bahwa ada yang lebih besar dari segalanya.

Sebelumnya, selayaknya seorang manusia, saya ingin begini ingin begitu, ingin ini ingin itu. 
Seperti lagu Doraeman.
Namun kini keinginan saya Cuma sehat dan diberi kesempatan lebih lama untuk membersamai keluar. 
Perlahan hilang  tulu’ul amal (panjang angan-angan),
sekarang tidak berani untuk merencanakan hidup terlalu jauh. 
Road Map Tahunan, Lima tahun dst sudah tidak berani, just day by day. 
Besok masih hidup ga ya….di kantor lancar safe ga ya dll. 
Belajar menyadari esensi hidup ini seperti apa, dan belajar menerima takdir. Tadinya denial, mengapa saya….ketika hidup lagi enak-enaknya….tapi kah why not!
Seperti sudah dikatakan tadi, orang yang sakit itu tidak banyak keinginannya Cuma satu! Ingin sehat, Nikmat yang baru terasa ketika sakit. Ketika kita pernah mengalami situasi sulit maka kita akan semakin menghargai dan mensyukuri setiap detakan jantung, tarikan nafas yang lega, peredaran darah yang lancar dan lain-lain yang kadang luput dari Syukur ketika sehat. Saking terbiasa sehat, kadang kita Merasa sehat itu adalah hak yang sudah sewajarnya. Kita percaya, setiap sakit, setiap rasa yang tidak nyaman yang dirasakan oleh kita adalah sarana untuk mengugurkan dosa.
Sakit bukan aib apalagi kehinaan. Itu qodarullah. Seperti Nabi Ayyub AS, Banyak orang shalih dan bahkan Nabi kita Muhammad SAW juga pernah merasakan sakit.  
Tingkat kematangan paripurna spiritual seseorang adalah ketika dia sudah tidak goyah lagi oleh sakit dan sehat, hujan dan panas, nyaman dan tidak nyaman, naik dan turun, banyak dan sedikit. Semua diterima sebagai qodarullah yang harus diimani, dijalani, dinikmati dan disyukuri. 
Mudah2an kita diberikan kekuatan untuk tetap berhusnuzhan thd segala ketentuan Alloh,  ridho dan bersyukur terhadap segala ketetapan-Nya. 
#blogger #blogspot


Minggu, 23 Februari 2025

PHighter Diary (8)

Sudah dua bulan, tubuh ini rasanya agak ngeflare!
Aktifitas sehari-hari alhamdulillah masih bisa.
Cuma agak nambah berat kepala dan kadang kepala tuh deengg...
ada sensasi mau pingsan.

Memang stress dominan bikin ngeflare.
Hidup tanpa tekanan, gesekan dan konflik memang mustahil.
Tapi setidaknya harus dikelola dengan baik.
Agar tidak kontraproduktif. 

Dari luar orang tidak akan mengira kita sedang berjuang.
Menahan berbagai sensasi dan perasaaan.
Secara fisik memang tidak terlihat.






Jumat, 21 Februari 2025

Overthinking


Hari ini saya mendapat keajaiban. A miracle...
Dapat berjalan kurang lebih 500 meter di tempat baru dan kembali
dengan kondisi jalanan agak menanjak. 
Sebelum sakit kalau ada rencana mau pergi itu senang rasanaya!
Senang sekali!.
Tidak shabar sudah ingin Hari H.
Kini beda.
Dengan kondisi tubuh dan mental yang tidak lagi seperti dulu,
Makin mendekati Hari H itu makin ga karuan.
Kombinasi antara khawatir, ketakutan dan berbagai perasaan lainnya.
Intinya overthinking.

Akhirnya sampai juga ke Curug Jami.
Destinasi wisata yang lumayan viral di Ciamis.
di Leuwi Kiara Koneng Sungan Cibaruyan.
Alhamdulillah lancar juga.
Jalan yang panjang dan menanjak berhasil dilewati.
Cukup ngos ngos ngosan tapi bisa kembali ke area parkir. 

Anxiety, kekhawatiran memang telah beberapa tahun membersamaiku.
Takut collaps...
Pingsan...
Takut meninggal!

Menjadi tantangan tersendiri untuk survive.
Melawan ketakutan-ketakutan itu.
Sebenarnya sejauh ini tidak kejadian.
Tapi gejala-gejala memang ada.
Paling dominan kepala yang berat, seperti mau blackout!
Karena otak kekurangan oksigen.
#blogger #overthinking #PH 



Rabu, 19 Februari 2025

Dua Tahun Di Rumah Baru

Alhamdulillah!
hari ini 19 Februari 2025. Tepat 2 tahun kami menghuni rumah baru.
Bukan baru banget, baru hasil renovasi maksudnya. 
Sebagai seorang kepala keluarga, punya tempat untuk menaungi keluarga dengan baik adalah kebahagiaan tersendiri. 

Perlu perjuangan,
apalagi bagi kami yang hidupnya tidak berlebihan.
Dapat memahami mengapa mayoritas keluarga itu hanya satu kali membangun/merenovasi rumahnya.
Karena memang bagi kebanyakan kita, pengorbanan materi dan non materi untuk menghadirkan sebuah tidak bisa dikatakan mudah dan murah. 

Alhamdulillah, mudah-mudahan menjadi baiti jannati!
Berkah!

Sabtu, 08 Februari 2025

Waktu yang Berlalu Terburu-buru.

Sudah Februari. Tidak terasa!
Waktu berlalu seperti terburu-buru! Berjalan cepat.
Sudah bertanya ke banyak orang!
Teman, istri, dan supir taksi online.....
Jawabannya iya A, asa nembe kamari Jumat!
Kaya baru kemarin tahun baru!

Masa seperti beranjak tergesa-gesa. 
Detik....menit....jam...hari! 
Bulan....tahun.
Dalam ajaran kami ini adalah tanda-tanda akhir jaman.

Namun tetap saja paradox!
Di tengah segala kemudahan mengerjakan sesuatu.
Sejatinya waktu yang tersiksa lebih banyak.
Tapi tetap saja kurang.
Mungkin waktu kita habis karena terlalu lama memegang smartphone. 



Selasa, 28 Januari 2025

PHigter Diary (7)

Sebentar lagi Ramadhan,
Mudah-mudahan Alloh SWT menakdirkan membersamainya kembali. 

Entah di Ramadhan tahun berapa aku pernah berdo'a!
Ya Alloh sampaikanlah usiaku di 40 puluh tahun.
Aku ingin berumah tangga dan mempunyai keturunan.

Alloh yang Maha Baik mengabulkan do'aku.
Aku dikaruniai istri yang shalihah, anak-anak yang baik, dan:
alhamdulillah masih diberikan kesempatan menjalani kehidupan.
Empat puluh tujuh tahun jalan. 

Sejak divonis mempunyai kelainan jantung bawaan, 25 tahun yang lalu,
aku sudah pasrah, setidaknya berusaha untuk menerima ini takdirku.
Dengan berat hati kuhapus deretan rencana dan cita-cita.
tentang karir di perusahaan terkemuka.
tentang melanjutkan sekolah ke luar negeri.
dan mimpi-mimpi lainnya khas seorang anak muda 
yang penuh percaya diri.

Alloh telah menyiapkan skenario yang lebih baik.

Terima kasih Yaa Alloh atas semua!
Sakit ini,
keterbasan ini,
membuatku semakin sadar eksistensi sebagai makhluk.

Terima kasih Yaa Robb!
Telah memberi semua.
Telah banyak halaman cerita kehidupan yang lalui
Telah banyak warna yang hidup yang ku lihat.

Jumat, 24 Januari 2025

PHigter Diary (6)

Terkadang tebersit untuk menyerah saja. 
ya menyerah...
..................
Uugggh...
Berat sebenarnya cobaan dan ujian ini...
Susah diceritakan!
Tapi aku harus survive.
Memperpanjang masa stabil dan bisa beraktifitas seperti layaknya orang normal.
Berdo'a dan berusaha. 
Mudah-mudahan ada mukjizat dan keajaiban. 

Bagi yang sehat, sebelum tidur mungkin kepalanya akan penuh dengan rencana esok hari.
Sementara aku merenung nyampai ga ya sampai esok pagi!
Hidup memang tidak pasti!
Bagiku lebih tidak pasti lagi.

Kini tak berani lagi untuk merencanakan satu, dua, tiga, empat atau lima tahun kedepan.
Rencana harian dan mingguan dan paling lama bulanan.
Itu pun masih penuh dengan tanya!
Dan dibarengi doa....InsyaAlloh!

Menikmati episode bulanan.
Dari kontrol ke kontrol bulan berikutnya.
Ini ritual sakral bulanan.
Mudah-mudahan dicatat sebagai amal.
Ikhtiar memuliakan jiwa.

Bismillahi tawakkaltu alallah la haula wala quwwata illa billahil aliyil adzim!

Mengisi Kultum

  Sudah menjadi tradisi di Mesjid tempat kami bekerja,  sehabis Shalat Dzuhur suka diadakan Kuliah Tujuh Menit.  Dan sehabis Dzuhur kali ini...