Sudah menjadi tradisi di Mesjid tempat kami bekerja,
sehabis Shalat Dzuhur suka diadakan Kuliah Tujuh Menit.
sehabis Shalat Dzuhur suka diadakan Kuliah Tujuh Menit.
Dan sehabis Dzuhur kali ini merupakan giliran saya.
Bismillah saja, saya sharing pengalaman saya sebagai seorang survivor penyakit kronis.
Dalam kesempatan ini saya ingin sharing salah satu episode hidup yang dialami, sakit. Sakit kronis, bukan sakit biasa yang 1-3 hari minum obat selanjutnya sembuh.
Walaupun ada di nomor enam, bukan berarti iman kepada qodo dan qodar adalah rukun iman yang paling mudah. Takdir yang kita alami merupakan merupakan sarana untuk membuktikan apakah kita percaya kepada Alloh, percaya bahwa Alloh yang menentukan hidup kita beserta atribut-atributnya, jodo, pekerjaan, anak, rejeki, sakit, sehat dan kematian kita. Merupakan ujian keimanan yang berat ketika qodarulloh yang kita alami tidak sesuai dengan rencana dan harapan kita.
Sudah 7 tahun Alloh mengurangi kesehatan saya.
Sekarang hidup dalam fase new normal (kaya jaman covid ya) berjalan seperti biasa namun ada keterbatasan dalam beberapa hal.
Dengan takdir Entah harus kecewa atau senang, sebab pengalaman selama ini pula saya seolah disadarkan.
Apa yang saya alami seperti sebuah tamparan Tuhan.
Bukan dengan tangan, bukan dengan suara lantang. Tapi dengan cara yang pelan, dalam, lama dan menyadarkan.
Kurang menyadarai sejak kapan hati ini mulai mengeras. Mungkin karena terlalu sibuk mengejar dunia, Mungkin juga karena semakin jarang berdoa, semakin lupa bahwa ada yang lebih besar dari segalanya.
Sebelumnya, selayaknya seorang manusia, saya ingin begini ingin begitu, ingin ini ingin itu.
Seperti lagu Doraeman.
Namun kini keinginan saya Cuma sehat dan diberi kesempatan lebih lama untuk membersamai keluar.
Perlahan hilang tulu’ul amal (panjang angan-angan),
sekarang tidak berani untuk merencanakan hidup terlalu jauh.
Road Map Tahunan, Lima tahun dst sudah tidak berani, just day by day.
Besok masih hidup ga ya….di kantor lancar safe ga ya dll.
Belajar menyadari esensi hidup ini seperti apa, dan belajar menerima takdir. Tadinya denial, mengapa saya….ketika hidup lagi enak-enaknya….tapi kah why not!
Seperti sudah dikatakan tadi, orang yang sakit itu tidak banyak keinginannya Cuma satu! Ingin sehat, Nikmat yang baru terasa ketika sakit. Ketika kita pernah mengalami situasi sulit maka kita akan semakin menghargai dan mensyukuri setiap detakan jantung, tarikan nafas yang lega, peredaran darah yang lancar dan lain-lain yang kadang luput dari Syukur ketika sehat. Saking terbiasa sehat, kadang kita Merasa sehat itu adalah hak yang sudah sewajarnya. Kita percaya, setiap sakit, setiap rasa yang tidak nyaman yang dirasakan oleh kita adalah sarana untuk mengugurkan dosa.
Sakit bukan aib apalagi kehinaan. Itu qodarullah. Seperti Nabi Ayyub AS, Banyak orang shalih dan bahkan Nabi kita Muhammad SAW juga pernah merasakan sakit.
Tingkat kematangan paripurna spiritual seseorang adalah ketika dia sudah tidak goyah lagi oleh sakit dan sehat, hujan dan panas, nyaman dan tidak nyaman, naik dan turun, banyak dan sedikit. Semua diterima sebagai qodarullah yang harus diimani, dijalani, dinikmati dan disyukuri.
Mudah2an kita diberikan kekuatan untuk tetap berhusnuzhan thd segala ketentuan Alloh, ridho dan bersyukur terhadap segala ketetapan-Nya.
#blogger #blogspot