Rabu, 29 Juni 2016

Pembelajaran dari Petasan

Walaupun sampai saat ini saya belum menemukan kajian yang komprehensif baik dari segi sosiologis maupun filosopis tentang mengapa di bulan ramadhan orang suka menyalakan petasan, saya termasuk  orang yang kurang setuju dengan pelarangan petasan dengan alasannya :

pertama petasan dapat melatih kewaspadaan, kehati-hatian dan keshabaran
kedua petasan dapat memutar roda perekonomian.

Anak yang ingin menyalakan petasan sebenarnya sedang mengalami perkembangan psikologisnya. Ingin mencoba sesuatu yang dia sendiripun tahu bahwa itu bahaya. Tapi ia ingin eksis dan ingin mencoba (ini poin positif), tahu resikonya dan siap menempuh resikonya (ini juga positif). Bagi penyala pemula (begitu saya menyebut anak yang pertama menyalakan petasan), pasti ia beli petasan yang kecil-kecil dulu! eh pertamanya dia beli kembang api yang hanya nyala saja, terus beli obat mentol, yang bunyi ketika dipukul batu! setelah lulus ia beli cecengekan alias cabe rawit yang  bunyinya perepet perepet perepat....trus beli petasan yang meledak di udara dan akhirnya petasan ukuran yang cukup besar. Nyalainnya juga bertahap kalau pemula nyalainnya sumbunya dipanjangin pake kertas atau pahpir rokok....jago sedikit petasan ditaro di tanah lalu dinyalain langsung! Nah kalo yang udah master tangan kanan pegang petasan tangan kiri pegang korek api! nyalain lalu lempat.....luar biasa!

kedua soal mengapa petasan memutar roda perekonomian! petasan kebanyakan produk lokal dan  tradisional dengan harga yang tidak terlalu mahal beda dengan kembang api yang kebanyakan produk luar negeri dan harganya selangit..... bagi saya ga worthed uang 75.000 ditukar dengan 5 kali ledak plus ornamen-ornamen cahaya! #ijinkan saya berbeda pandangan hehehe. 




Tidak ada komentar: