Sabtu, 23 Januari 2016

Jadi Voter Pemilu Ketua Ikatan Alumni Almamater


Mungkin salah satu Pemilu yang ga bikin degdegan ya Pemilihan Ketua Ikatan Alumni Perguruan Tinggi tempat kita dulu menimba ilmu. Entah karena tidak terlalu berkepentingan atau tidak terlalu intens secara emosional. Berbeda dengan Pemilu Presiden, Pileg, Pilgub, Pilbub/Pilwakot, atau Pilkades. Pemilu-Pemilu itu terkadang sampai mengaduk-ngaduk pikiran dan perasaan! (heheheh....salah siapa!). 

Bagi alumni yang  jauh dari tempat pemungutan suara dapat menggunakan e-voting. Memang sangat memudahkah. Berbekal Nomor Induk Mahasiswa dan pengisian data kita telah teregistrasi. Kemudian kita aktifkan akun lalu selanjutnya panitia akan memverifikasi data kita. Pas hari H kita akun diberi kode unik yang dimasukan pada saat login! lalu e-voting kita lakukan!

Sebetulnya siapapun yang menang ya podo bae!Wong masih tetap satu almamater. Paling beda fakultas dan visi-misi! Keinginan para calon intinya sama saja. Hanya berbeda susunan kalimat dan penekanan tagline. Para  kandidat calon Ketua IA ITB pasti mempunyai kapasitas yang lebih dari layak. Hal itu dapat dilihat dari track record masing-masing. Siapapun yang terpilih kita dukung saja.

Hanya satu harapan terhadap siapapun yang terpilih, "jagalah jarak dengan kekuasan, jangan jadi partisan!". 

Sabtu, 16 Januari 2016

Alun-Alun Ciamis


Alun Alun Ciamis
Namemarker Alun-Alun Ciamis

Kalau kita berkunjung atau sepintas melewati Alun-Alun Ciamis, sepintas ada yang baru! Sebuah eye catcher berupa nama penanda (namemarker) tempat yang berupa tulisan ALUN ALUN CIAMIS dengan menggunakan konsep neon box sehingga kalau malam hari akan terlihat terang. Sepertinya konsep penanda (namemarker) seperti ini sedang trend, entah siapa dan dimana yang memulai yang jelas penanda (namemarker) yang legendaris dan mungkin juga yang pertama adalah Hollywood.
resources : www.history.com
Tak ayal keberadaan penanda Alun-alun Ciamis  tersebut menjadi daya tarik sendiri, terutama bagi para pengikut aliran selfie! Beruntung Kota Ciamis masih mempunyai Alun-Alun, sebuah ruang publik tempat berbaur berbagai ragam dan warna! Filosofis dari alun-alun adalah sebuah punjer, perwujudan dari kebhinekaan masyarakat! Penataan alun-alun hendaknya tidak mencerabut makna alun-alun dari suasana kebatinannya. Keteraturan jangan sampai mematikan jiwa alun-alun sebagai melting pot lokal; tempat berbagai profesi, status sosial, latar belakang bercampur dan berinteraksi. Kata alun-alun berasal dari bahasa Arab Al Lawn yang berarti ragam, warna atau corak. Dibaca dua kali Al lawn- al lawn  yang berarti tempat berkumpulnya segala lapisan masyarakat, wong cilik, wong sugih, wong cacah wong ningrat!
Sepertinya dulu tata kota Ciamis berusaha untuk mengadopsi konsep Macapatnya Sunan Kalijaga. Di pusat kota terdapat tanah lapang beserta pohon beringinnya yang masih cukup ideal untuk disebut sebagai sebuah alun-alun! Ada Mesjid Agung disebelah barat, Penjara di barat daya, Gedung Negara/Pendopo Bupati di sebelah utara. Tadinya disebelah timur terdapat pasar, tapi karena tuntutan pengembangan kota maka Pasar Ciamis sekarang bergeser ke sebelah tenggara kota.
Lokasi Bekas Pasar Manis Ciamis

Kalau berkunjung bolehlah untuk singgah sejenak di Alun-Alun Ciamis. Mesjid Agungnya sangat repsentatatif untuk beribadah kepada Sang Pencipta, Penguasa Segala Alam!. Setelah menikmati eksotisme Alun-Alun Ciamis, beberapa spot kuliner di sekitaran Alun-Alun Ciamis juga boleh untuk dicoba. Kupat Tahu Ocih (Kupat Tahun ini rasanya khas), Kupat Tahu Mang Engkus (Di Jalan Pemuda, mangkal pagi sampai dzhuhur), Goreng Ayam K3, Soto Iyun, Pindang Nilem Teh Dede, RM. Ampera, RM Padang Roda Baru, Bubur Ayam Pusaka (Etom), Sate dan Gula H. Etom dan lain-lain.
Mesjid Agung Ciamis



Kamis, 14 Januari 2016

Ekspedisi Lobang Timah (4), Eksotisme Curug Omi


Me and Curug Omi

Entah mengapa dinamakan Curug Omi. Kang Edi, local partner yang mengantar  kami pun tidak tahu alasan mengapa disebut Curug Omi. Biasanya Omi itu nama orang. Apakah Omi adalah penemu curug tersebut, atau ada kejadian luar biasa yang menimpa Omi di daerah curug tersebut. Masih perlu kajian lebih lanjut.

Curug ini tidak terlalu besar juga tidak terlalu tinggi. Perkiraan tingginya kurang lebih 20 meter. Tapi tetap saja ada ada aura eksostisme dan kesejukan pada curug tersebut. Air yang gemericik di bebatuan alam bak orkestra yang begitu mendamaikan.
Curug Omi
Curug ini masih terbilang perawan. Untuk sampai ke lokasi kita harus melalui jalan di lereng bukit yang cukup terjal dan jalannya pun banyak yang sudah tertutup semak. Tapi itulah menariknya. Mungkin ke depan curug ini dapat dikembangkan untuk sarana rekreasi.

Rute menuju Curug Omi!Menantang!
Sekuel Ekspedisi Lobang Timah (kaya Jason Bourne aza hehehe) baru sampai Curug Omi, mudah-mudah selanjutnya bisa sampai di situs Lobang Timah. 

Tutugan Gunung Sawal Awal Januari 2016

Selasa, 12 Januari 2016

Ekspedisi Lobang Timah (3), Gunung Sawal adalah Sebuah Suaka Margasatwa


Mungkin ada beberapa orang yang belum tahu bahwa Gunung Sawal adalah sebuah Suaka Margasatwa. Hal terkait penetapan Gunung Sawal sebagai sebuah suaka margasatwa dapat dibaca di sini Gunung Sawal. Sebuah kawasan diklasifikasikan sebagai suaka margasatwa manakala menjadi tempat hidup margasatwa yang mempunyai nilai khas bagi ilmu pengetahuan dan kebudayaan serta merupakan kekayaan dan kebanggaan nasional. Salah satu satwa endemik gunung sawal yang khas adalah surili. Apa itu Surili dapat dibaca di sini  tentang Surili


Dulu plang seperti ini ada di gerbang masuk Dusun Cikujang Hilir. Pos penjagaan SM Gunung Sawal pada jaman saya kecil dikenal dengan PA (sampai sekarang aku ga tahu apa artinya PA, Polisi Alam atau apa ya, ada juga Polisi Hutan). Kadang ada juga yang menyebut pilar (mungkin mengacu pada patok batas antara tanah adat dengan tanah negara, PA dulu gedungnya sederhana, sekarang lumayan bagus walau ternyata wakti kami lewat tidak ada petugas dan aktifitas apa-apa.
Gedung PA yang baru (bercat biru muda)

Patok pembatas Zona Suaka Margasatwa dan Tanah Adat

Senin, 11 Januari 2016

Ekspedisi Lobang Timah (2), Jalan Romusha


Jalur pendakian Gunung Sawal menuju Lobang Timah akan melewati jalan berbatu yang dapat dilalui mobil dengan ground clearence yang cukup tinggi dan sepeda motor sejenis trail. Sepeda motor jenis lain pun sebenarnya bisa digunakan namun harus dengan ekstra hati-hati dan resiko kerusakan yang cukup tinggi. Kontur jalan kebanyakan datar dan walaupun ada yang menanjak tidak terlalu curam. Walaupun begitu tetap saja aku terengah-engah badan meminta istirahat sejenak. 

Sambil menarik nafas dalam-dalam benakku mencoba membayangkan bagaimana jalan ini dibuat. Perkiraanku mungkin sekitar tahun 1943-1945 penjajah Jepang membuat jalan ini untuk keperluan mengangkut hasil tambang timah hitam! seperti kebanyakan proyek bangunan sipil pada jaman penjajahan Jepang maka hampir dipastikan membuat jalan ini dengan memakai sistem romusha! Ah lelahku saat ini mungkin tidak sebanding dengan lelah para romusha yang mengerjakan jalan ini! Sistem kerja paksa ala pemerintah penjajajahan Jepang memang menyisakan luka yang mendalam bagi leluhur-leluhur kita. 

Eksploitasi Timah Hitam di Gunung Sawal tidak maksimal. Menurut cerita para tetua kampung hal itu disebabkan karena Jepang keburu kalah perang. Tadinya selain jalan memakai mobil, pengangkutan hasil tambang akan menggunakan lori. Besi-besi tua untuk rel lori sekarang dimanfaatkan untuk jembatan. Artikel terkait silahkan baca Rel yang Tak Terangkai
Jembatan di Hulu Cibaruyan Memanfaatkan Bekas Rel Lori

Rel untuk Lori pada jaman Jepang masih bisa kita saksikan



Ekspedisi Lobang Timah (1)


Cerita tentang adanya Lobang Timah di Gunung Sawal sudah sejak lama kudengar. Ketika kecil karung-karung berisi pasir hitam yang berkilau ketika diterpa cahaya dapat dijumpai di samping Gedung Bale Desa Sukamaju (dahulu dikenal dengan Cibaruyan) Cihaurbeuti Lobang Timah adalah area bekas penambangan timah hitam pada jaman penjajahan Jepang di Gunung Sawal. Konon tambang timah hitam ini satu-satunya di Indonesia. 

Sejak dulu besar keinginan untuk meyaksikan sendiri situs bekas tambang ini. Sebagai pituin Cibaruyan aneh rasanya hanya mengetahui daerahnya sebatas dari cerita dan pengalaman sumber sekunder. Tapi jujur saja, selain memerlukan fisik yang cukup prima Ekspedisi Lobang Timah juga butuh nyali! Seperti halnya gunung-gunung lain, Gunung Sawal masih menyimpan misteri dan mitos. Walau tidak terlalu luas dan tidak terlalu tinggi tapi cerita tentang pendaki yang tersesat masih sering terdengar. 

Akhirnya beberapa minggu yang lalu terlaksana juga petualangan ke Gunung Sawal. Saya menyebutnya "Ekspedisi Lobang Timah". Satu saat nanti ingin sampai ke situs tempat lobang-lobang penambangan timah berada. Bersama dua orang sahabat, Mang Aat Suwanto dan Kang Buche Hilman....petualangan menyusuri jejak sejarah, jejak geologis dan keragaman flora dan fauna Gunung Sawal bermula!


Bambu Tamiang

Bambu Tamiang
Bambu Tamiang (Bahasa Sunda: Awi Tamiang) merupakan salah satu jenis bambu yang sudah tergolong langka. Dulu kami mengenalnya untuk bahan sumpit; salah satu senjata tradisional di Indonesia. Selain untuk sumpit dan bahan kerajinan lainnya Bambu Tamiang, schizostachyum blumei ness merupakan bahan utama untuk membuat suling bambu. 

Di daerahku (Sukamaju, Cihaurbeuti) ada bukit yang bernama Citamiang dan ada juga desa yang bernama Pasirtamiang. Berdasarkan toponimi hal itu dinisbahkan pada endemiknya  Bambu Tamiang di daerah-daerah tersebut. Dalam bahasa Sunda juga ada peribahasa Tamiang Meulit Ka Bitis yang artinya malindes kadiri sorangan atau menjadi bumerang. Keberadaan pohon bambu menjadi unsur penting pelestarian lingkungan hidup. Bambu tidak bisa dilepaskan dengan kebudayaan Urang Sunda. Keterlibatan bambu dalam bidang arsitektur bangunan sipil dan kesenian urang Sunda menjadi bukti otentik Bambu sebagai salah satu kearifan lokal Urang Sunda. 

Gunung kaian
Gawir awian

Cinyusu rumateun
Pasir taluneun
Lebak caian
sampalan kebonan
walungan rawateun
daratan sawahan
situ pulasaraeun
lembur uruseun
basisir jagaeun


Bersyukur

Saya tak sempat menanyakan namanya. Ia berasal dari daerah Payung Agung, sebuah desa di Kecamatan Panumbangan Ciamis. Bersama beberapa o...